Archive for May, 2008

Ralisme, Pluralisme dan Strukturalisme

Sunday, May 18th, 2008

Beberapa teori
dalam HI berkonsentrasi pada aktor dalam sistem internasional, dan hal ini
memiliki konsekuensi terhadap pemikiran yang lebih lanjut. Perbedaan pada aktor
mana yang lebih dianggap penting dan konsentrasi pada apa yang menjadi tujuan
dari aktor-aktor ini tentu membuat teori seakan tidak menemui kesepakatan
mutlak bahkan bisa jadi bertantangan satu sama lain.

Realisme misalnya
berkonsentrasi pada Negara sebagai aktor utama dan tujuan dari Negara tak lain ada
untuk mendapatkan ‘power’ yang sebesar-besarnya. Terkait dengan realis para
pemikir neo-realis (atau realisme baru) dan struktural realis, juga masih
melihat Negara sebagai aktor utama dalam HI, meski pemikiran realisme baru ini
sudah mulai menerima adanya aktor lain yang punya peran di pinggiran.

Berbeda dengan perspektif
realis yang percaya bahwa untuk memahami HI, kita harus memahami tingkahlaku
Negara, pemikir pluralis tidak setuju jika aktor signifikan yang utama
dalam HI adalah Negara. Mereka melihat
Negara hanyalah salah satu dari banyak aktor yang sama-sama punya peran penting
dalam studi HI. Mereka tidak hanya menekankan pada pentingnya aktor lain selain
Negara seperti MNCs misalnya, mereka juga skeptis terhadap kekuasaan dan keamanan
Negara terlalu dianggap memiliki peran sentral.  

Selain dua
pendekatan diatas kita juga mengenal apa yang disebut dengan pendekatan
strukturalis. Strukturalis menekankan pada hal yang berbeda dari kedua
pemikiran diatas. Dari pada
berkonsentrasi pada aktor HI, ilmuwan strukturalis lebih berkonsentrasi pada
struktrur dari sebuah sistem. Mereka melihat negara dan aktor lainnya bertindak
dalam batasan sistem yang ada dan karenanya mereka tidak memiliki kebebasan
yang mutlak dalam bertindak. Oleh karena itu para pembuat keputusan harus
berfikir dalam bertindak. Untuk memahami sistem internasional, bagi
strukturalis, kira harus berkonsentrasi pada struktur-struktur yang ada bukan
pada tingkah laku dan pilihan-pilihan tindakan para aktor tersebut.

 

Realisme dan Peran Sentral Negara

Secara singkat dapat dikatakan bahwa Realisme
merupakan pendekatan yang menekankan pada Power (kekuatan/kekuasaan) dan
menggap negara sebagai aktor dominan dalam sistem internasional. Power bisa
didefinisikan sebagai kemampuan total dari suatu negara yang meliputi kekayaan
alam, kekayaan sintetis (buatan) hingga kemampuan sosio-psikologi.

Hans J Morgenthau mengatakan pada dasarnya setiap
manusia (negara) ingin mendapatkan power, mempertahankan, dan memperluas
kekuasaan jika hal ini berbenturan dengan yang lain maka akan menimbulkan ’struggle for power’. Mengacu pada banyak
pemikir yang terkait dengan realisme seperti Hans J Morgenthau, Thomas Hobbes,
Thucydides, dan lain-lain, maka pendekatan ini disebut pula sebagai pendekatan
pragmatis dalam politik internasional. Pendekatan ini pun banyak diperbaharui
oleh para teoritisi HI yang bisa dikelompokkan dalam neo-realisme:

Inti pemikiran Realisme dalam HI dapat
disimpulkan sebagai berikut:

1. Negara sebagai pemegan peranan dominan selalu
mempunyai kepentingan yang berbenturan.
Perbedaan kepentingan akan menimbulkan perang atau konflik.

2. Power yang dimiliki oleh suatu negara
sangat mempengaruhi penyelesaian konflik, dan menentukan pengaruhnya atas negara lain.

3. Politik didefinisikan sebagai memperluas power,
mempertahankan, dan menunjukkan power.

4. Setiap negara dianjurkan untuk membangun kekuatan,
beraliansi dengan negara lain, dan memecah belah kekuatan negara lain (devide
and rule).

5. Perdamaian akan tercapai jika telah terwujud Balance of Power atau Keseimbangan
Kekuatan yaitu keadaan ketika tidak ada satu kekuatan yang mendominasi sistem
internasional.

6. Setiap negara akan selalu bergerak dan
berbuat berdasarkan kepentingan nasionalnya (national interest).

Sementara itu pemikiran neo-realis dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Pendekatan ini seperti halnya Realisme menekankan pada
peranan negara dalam hubungan internasional tetapi, tetapi mulai mengakui
adanya aktor lain yang juga berperan di pinggiran. Negara memiliki peran
sentral sementara aktor lain bersifat peripheral.

2. Mereka juga
melihat power dalam konteks yang berbeda dengan pendahulunya. Power
didefinisikan sebagai konsep relasional. Jadi Negara tidak dianggaap punya
power dengan sendirinya, melainkan dalam hubungannya dengan Negara lain.
Negara
selalu ingin memiliki power lebih dari Negara lainnya.

 

Pluralisme dan Keberagaman Aktor

Pluralisme
tidak puas pada versi pemikiran realis terutama mengenai penekanan pada aktor
Negara sebagai pusat dalam HI. Menurut pluralis saat ini Negara tidak lagi memiliki
peran sentral dalam HI, karena banyak aktor lain yang juga memiliki peranan
penting terutama aktor-akor ekonomi .

Berikut
inti pemikiran Pluralis:

  1. Jika realis berasumsi bahwa Negara ada secara
         independent dan memiliki kepentingan sendiri,  pluralis menawarkan konsep complex
         interdependence. Complex Interdependence bisa diumpamakan seperti jaring
         laba-laba, yang dikarakterkan sebagai jaringan yang banyak antara banyak
         aktor dimana tidak terdapat hirarki dalam isu yang ada.
  2. Pluralis juga menekankan bahwa aktivitas
         internasional tidak hanya melulu tentang tingkah-laku Negara akan tetapi
         juga tingkah laku aktor lain. Kepentingan Negara juga bukan hanya soal
         keamanan dan power. Banyak isu lain yang bisa diambil oleh aktor
         non-state, misalnya saja soal isu kelangkaan minyak, karena minyak
         merupakan hal penting ekonomi modern baik Negara mupun MNCs bisa mengambil
         keputusan secara berbeda dalam porsi masing-masing.
  3. Meski
         menekankan pada aktor ekonomi namun merreka tidak mengesampingkan internasional
         aktor lainnya. Misalnya gerakan religius, gerakan nasional dan lain lain,
         mereka tidak bertindak atas nama negara seperti yang diasumsikan realis.
  4. Meski
         Organisasi internasional seperti PBB dibentuk dan beranggotakan secara
         resmi negara-negara berdaulat, namun pemikir pluralis tetap berpandangan
         bahwa organisasi internasional bukan aktor utama dalam HI.

 

Strukturalisme dan Sistem Internasional

Berbeda dengan dua pendekatan diatas, yang
lebih menekankan pada aktor HI, strukturalisme lebih menekankan pada struktur
dalam sistem internasional dan menggapnya bisa memberikan penjelasan aspek mana
yang signifikan dalam menggambarkan HI. Strukturalisme tampaknya lebih terlihat
sebagai sebuah pendekatan dari pada teori itu sendiri. Karenanya strukturalisme
bisa dianggap mengepalai banyak varian
teori dibawahnya.

Berikut pandangan singkat tentang
strukturalisme:

  1. Menekankan
         pada struktur dalam sebuah sistem internasional bukan pada aktor yang
         bermain didalamnya. Fokus pada struktur dipandang lebih baik dibandingkan
         dengan pendekatan aktor dalam melihat HI.
  2. Strukturalisme
         skeptis terhadap adanya pengaruh organisasi-organisasi dalam HI termasuk
         negara, orgnasisasi internasional dan aktor lainnya  terhadap struktur luar.
  3. Analisis
         struktural dapat dibedakan tergantung pada beberapa varian yang ada, seperti.:

· Realisme
strukturalis dapat dikatakan sebagai strukturalis yang memandang negara sebagai
aktor sentral.

· Marksis
strukturalis menekankan pada struktur kelas dan sosial yang banyak terpengaruh
oleh sistem ekonomi.

· Feminist
structuralis merupakan strukturalis yang fokus pada isu gender dalam hubugnan
sosial.

BBM

Friday, May 16th, 2008
  • Inflasi bulan April 0,57 dengan Inflasi tahunan 8,96%. Menurut Kepala
         BPS Rusman Heriawan pada April ini faktor pangan tidak lagi penyumbang
         terbesar inflasi, sekarang faktor pemicu inflasi sudah bergeser ke sektor
         energi terutama minyak tanah.
  • Karena dipicu penguatan tekanan inflasi,
         suku bunga BI akhirnya bergerak naik 25 basis point ke level 8,25%.
         Kenaikan ini merupakan kali pertama sejak Agustus 2006 dan masih
         berpotensi naik seiring dengan upaya pengendalian ekspektasi inflasi ke
         depan.
  • Dalam
         tiga bulan pertama 2008, BI menghabiskan dana sebesar USD 7 miliar atau Rp
         63 triliun untuk mengintervensi pasar dalam rangka menstabilkan nilai
         tukar rupiah. Kendati begitu, BI menegaskan cadangan devisa negara hingga
         kini masih tetap aman.
  • LPS
         menaikan suku bunga penjaminan untuk rupiah bagi bank umum sebesar 25
         basis point menjadi 8,25% sebagai penyesuaian naiknya suku bunga acuan BI
         Rate. Kenaikan ini mulai berlaku 15 Mei-14 September 2008. sementara itu
         LPS measih mempertahankan suku bunga penjaminan untuk mata uang dolar AS
         di kiisaran 3,5%, sedangkan untuk suku bunga penjaminan BPR secara
         otomatis naik 0,25% menjadi 11,75%.

 

Indikator2 diatas menujukan kondisi terakhir perekonomian kita secara makro
menjelang kenaikan BBM yang diperkirakan akan naik 23 Mei ini. Kenaikan harga
minyak mentah yang sudah menyentuh level 126 dolar AS per barel, hal inilah salah satu yang dilihat oleh
pemerintah sebagai alsan BBM dinaikan karena subsidi tentu akan memberatkan
APBN. (Ingat Semua Indikator adalah data resmi dari
pemerintah, ada kemungkinan data ini dikeluarkan untuk mendukung naiknya BBM)

Bergesernya faktor penyumbang inflasi dari sektor makanan
ke energi di satu sisi memperlihatkan negara ini mengalami sebuah krisis
energi, (membangunan Kilang juga tidak pernah dilakukan,
Pangkalan Brandan bahkan dengan sengaja dibesituakan supaya Sumatera dipasok
BBM dari Malaysia dan Singapura dengan alasan
lebih efisien

Sampai sekarang, kilang BBM juga
tidak pernah dibangun dengan benar,
Iwan Nurdin). Selain
dominasi calo minyak serta tekanan pasar bebas, tentu banyak faktor lain yang
menimbulkan kenapa pemerintah tidak pernah mau membangun kilang, seperti akan
kembali memberatkan APBN. Tentunya yang akan garap proyek
adalah Bakrie dan Medco yang selama ini dianggap sebagai Borjuasi nasional.

 

Dilihat dari sisi pandang ekonomi perbankan yang
menunjukan berbagai spekulan terkait dengan krisis subprime mortage yang tak kunjung berakhir, berbagai spekulasi
memperkirakan perbankan nasional bisa bertahan asal kebijakan BI agak sedikit
bertentangan dengan ekonomi pasar (artinya selama BI masih menintervensi pasar
maka kondisi perbankan kita bisa bertahan dari buble economic)  lain halnya
dengan aliran hot Money yang terus
mengalir lewat SBI yang telah dimulai dilelang secara Internasional di Singapur.
Hal ini bisa saja membuat ekonomi kita mengalami krisis kedua ketika dana ini
ditarik secara serentak oleh para pemiliknya atau saat jatug tempo pemerintah
tidak mempunyai dana cadangan (Jadi Ingat Eli Salomo
pernah minta data ini)
, apalagi tingkat kepercayaan masyarakat terhadap
lembaga keuangan agak sedikit memburuk setelah terjadinya korupsi di berbagai
bank nasional. Yang perlu di perhatikan adalah Sektor kredit terutama kredit
konsumsi, kemungkinan kredit di sektor ini akan macet, karena dengan naiknya
BBM ada kemungkinan retrun  kredit akan sulit dilakukan.

 

Suku Bunga acuan yang naik semenjak Agustus 2006 (8%)
hingga awal Mei menjadi 8,25% di prediksi akan menembus angka dua digit akhir
tahun ini. BI Rate yang naik ini serta Inflasi yang terus menekan dan isu
naiknya harga BBM semakin memukul kondisi perkonomian. Gejolak di pasar
keuangan memang belum terjadi, namun hal ini perlu diwaspadai terlebih kondisi
politik menjelang pemilu 2009 terus menghangat. Kondisi sektor UMKM kita sangat
lemah karena selama ini terbiasa menerima kucuran kredit, kredit ke sektor ini terus
menguat hal ini dibuktikan dengan penyaluran berbagai macam program perbankan
yang di catat BI telah seribu triliun rupiah lebih.

 

Suku bunga penjaminan yang dinaikan
LPS setelah BI Rate dinaikan tentunya akan memicu naiknya suku bunga perbankan,
yang artinya daya beli masyarakat akan terus menurun, sehingga bakal memicu
over produksi berserta efek dominonya…….(pengangguran, capital flight, dll)

 

Subsidi silang yang dijanjikan sampai detik ini
tidak pernah terbukti secara kongkrit, biaya pelayanan publik masih terus
tinggi (kesehatan, pendidikan, dll. )
Indonesia ekspor 70% batubara ke luar negeri, (padahal
tahun ini akan dibangun 10 lebih PLTU, pastinya menggunakan batu bara
) Indonesia
pengekspor LNG terbesar di dunia Indonesia ekspor 500 ribu bph minyak (kompas).
J
adi BBM naik atau tidak rakyat
terap dimiskinkan secara struktural.

 

 

 

 Moga para Steakholder di negara ini akan
berlaku seperti yang kita harapkan

Amin….

 

 

Aprio Rabadi

Menapak Angan

Sunday, May 11th, 2008

SiluetMerangkai bulan
dan bintang

Ditengah
teriknya
malam

Tak menemukan apa
yang dicari

 

Lelah , lelah,
lelah…………

Terengah-engah

Biarlah menguap
jadi kepulan asap

Hilang…..

 

Penat
serasa…….

Tak kenal kenyang

Hawa nafsu
menembus batasnya

 

Mata memadang
alam

Tak menjadikannya
guru

Penuh kedengkian

Menjemput
asa……..

 

Kutapak tanah ini

Kusuri …….

Selangkah, dua
langkah, tiga langkah

Tak kutemukan
juga….

 

Apa yang kau cari….

Apa yang kau
dapatkan…….

Bergunakah…….

 

Tidak..!!!!!

Tidak ada….

Semua hilang..

Ooooohhhhhh demi
waktu….

Kekerasan

Thursday, May 8th, 2008

Ada satu hal yang bisa dilihat sewaktu melihat
Mesjid tempat solat yang biasa dipakai jemaat Ahmadiyah dibakar, ketika kerusuhan
poso, pengeboman stasiun kreta di Madrid, atau melihat bagaimana orang dengan
sorban, hubah putih, naik motor, banyak jumlahnya dan berseliweran di jalanan
dengan sesuka hatinya, saya menyebutnya hal demikian adalah kekerasan.

Atau anda pernah melihat sepasang remaja berbicara
tanpa menatap wajah?, berbicara dengan mengadu punggung, dan tidak akan mau
bersalaman dengan lawan jenis (bukan muhrim). Saya juga melihat itu sebagai
kekerasan, walaupun dengan alasan menghindari zina. Zina itu datangnya dari
pikiran dan hati. Jangan salahkan Inul, Dewi Persik, Nita Talia serta penyayi dangdut lain yang hobi bergoyang. Hukum
zina datang dari yang melihat, mendengar, berkata, merasakan, dan bukan dari
yang melakukan.

Irshad Mudjani dalam suatu wawancaranya mengatakan
satu hal yang sering tidak diakui oleh para kaum islam moderat, mereka menolak
kekerasan atas nama islam, tapi menyangkal peran agama dalam hal kekerasan. Bahwa
agama dimanipulasi untuk melegalkan kekerasan, nah hal itulah yang sekarang
marak terjadi di Indonesia dengan contoh-contoh diatas tadi.

Globalisasi, Dehumanisasi, dan Persoalan Ruang Sosial

Tuesday, May 6th, 2008

Entah posisi mana yang diambil, tetapi
yang pasti globalisasi adalah sebuah gejala yang saat ini sungguh tidak bisa
dielakkan (inevitable).
Televisi
dan koran membawa berita dari segala sudut dunia, bukan hanya berita perang,
tapi juga berita olahraga, fashion, musik dan sebagainya. Orang kini bisa
marah, sedih dan gembira terhadap peristiwa yang tidak mereka lihat sendiri,
penggemar Manchester United dan David Beckham di China hanya bisa menangis tersedu
sedu melihat bintang pujaannya pindah ke Real Madrid, orang di Amerika seolah
kembali pada suasana 11 September ketika melihat ribuan orang berunjuk rasa
pasca ledakan di Madrid, sementara itu ribuan produk produk yang tidak dibuat
di tanah air mebanjiri rak rak dan etalase toko. Mereka didatang

kan

dari seluruh penjuru
dunia, mulai dari sepatu, tas, baju, celana, minuman kaleng, ayam goreng hingga
mobil mewah. Sementara disudut lain  harga saham di

London

,
Frankfrut,

Tokyo

, dan

New York

membuat orang tak bisa tidur atau
sakit jantung karena harga sahamnya melonjak lonjak.

Globalisasi telah menjadi kekuatan yang membutuhkan respons tepat karena
ia memaksa suatu strategi bertahan hidup (survival
strategy
) dan strategi pengumpulan kekayaan (accumulative strategy) bagi berbagai kelompok dan masyarakat.
(Featherstone,1991). Proses ini membawa pasar menjadi kekuatan dominan dalam
pembentukan nilai dan tatanan sosial yang bertumpu pada prinsip prisip
komunikasi yang kian padat dan canggih. Pasar telah memperluas orientasi
masyarakat dan mobilitas sehingga batas batas sosial budaya selain meluas juga
mengabur akibat berubahnya orientasi ruang dalam masyarakat (Apparaduai, 1994).

Selain arus orang dan barang,
arus informasi merupakan suatu keuntungan dan sekaligus suatu ancaman yang
sangat berbahaya. Marshall Goldsmith (1998) menunjukkan tiga ciri masyarakat
global yang terbentuk akibat proses ekspansi pasar, yang merupakan tahap ketiga
dari proses perubahan sosial. Transformasi tahap ketiga tersebut bertumpu pada
differensiasi (perbedaan) dan memiliki potensi hadirnya perbenturan nilai nilai
dalam masyarakat. Mempertegas ciri yang telah disebutkan Goldsmith adalah : Diversitas (perbedaan), pembentukan
nilai jangka panjang (long term values),
dan hilangnya humanitas (dehumanisasi).
Goldsmith juga menambahkan bahwa komunikasi global akan melahirkan jaringan
yang tidak terhitung, yang menghubungkan manusia dalam satu pikiran global (global mind).

Persoalan humanitas
menjadi penting dalam konteks global, bukan hanya akibat proses teknologisasi
yang terjadi secara besar besaran, tetapi juga karena interaksi tatap muka yang
yang cenderung menghilang dari waktu ke waktu (ini seperti diurai oleh Milton
Friedman dalam Lexus and The Olive Tree,
bahwa di balik hubungan yang efisien itu terdapat satu ruang interkoneksitas
sosial yang membuat individu terasing). Realitas media misalnya, akan menjadi
suatu dunia yang tanpa sadar mengasah dan menumpulkan kemanusiaan kita. Media
melahirkan jarak baru dengan realitas sosial yang sesungguhnya, sehingga proses
empati menjadi persoalan besar dalam konteks semacam itu. Ruang ruang sosial
juga semakin sempit sejalan dengan terbentuknya ruang ruang elektronik (electronics space) yang lebih efisien. Penduduk
kehilangan intensitas interaksi sosial akibat pola alokasi waktu yang berubah
dan cenderung berhadapan dengan barang elektronik ketimbang dengan kelompok
atau komunitasnya. Individu yang semakin teralienasi dari kelompok sosialnya
menyebabkan nilai dan pemaknaan menjadi relatif dan terdeferensiasi (Irwan
Abdullah,1999). Hubungan personal menjadi kurang penting sejalan dengan
menghilangnya empati emosional dalam diri individu individu.

Sadar atau tidak inilah fenomena sosial
dan kebudayaan yang terjadi di abad 21, Globalisasi telah menciptakan berbagai
bentuk deteritorialisasi kebudayaan yaitu tercerabutnya kebudayaan dari
teritorialnya, untuk kemudian berputar dalam ruang kapitalisme global tanpa
henti, lewat berbagai medianya. Globalisasi ekonomi, informasi, dan kebudayaan
telah menyebabkan lenyapnya batas batas ruang, teritorial, suku, agama, bangsa
dan negara. Ruang ruang itu dibentuk oleh elemen elemen yang baru, yang pada
titik perkembangannya akan menciptakan segmentasi ruang, duplikasi ruang, dan
akhirnya halusinasi ruang (Yasraf Amir Piliang,
2004)         

Berkaitan dengan ruang global tersebut
Deleuze dan Guattari melihat bahwa sudah sejak jaman primitif manusia
terfragmentasi dalam berbagai cara, berbagai model dan berbagai arah
segmentasi. Pertama, kita akan
terfragmentasi secara binary
(pasangan), mengikuti model oposisi pasangan (oposisi binary) dalam kelas kelas sosial semisal hitam putih,
wanita pria, barat timur, dan sebagainya. Kedua,
melalui fragmentasi sirkular (cirkular),
seperti : individu / keluarga / tetangga / RT RW / Desa / Kecamatan / kota /
daerah / Negara / jagad raya. Ketiga,
terfragmentasi secara linier seperti : balita / anak anak / sekolah /
kerja  dan sebagainya.

Arus hasrat dan kapital yang mengalir
secara global menciptakan sekaligus deteritorialisasi dan duplikasi ruang tanpa
henti, ketika duplikasi ruang itu menyebar pada tingkat global yang dikontruksi
secara sosial untuk mengikatkan diri pada image sebagai perekat sosial. Perkembangan
sistem komunikasi global (pasar bebas, hyper
market
) akan  menciptakan berbagai halusinasi  ruang sosial. Electronics space membuat semakin
banyak orang kini berinteraksi, berkomunikasi, atau bersosialisasi  tidak
lagi berada dalam teritorialnya, tetapi berada dalam halusinasi teritorial yang
terbentuk (televisi, cyberspace, teleshopping, teleconference).

Proses globalisasi telah melahirkan differensiasi yang
luas, yang tampak dari proses pembentukan gaya hidup dan identitas. Etnis dan
agama secara teoritis menjadi kurang penting karena mulai digantikan oleh
ikatan ikatan baru sebagai akibat pergeseran identitas dan makna diri dalam
lingkup sosial dan kultural.