BBM

  • Inflasi bulan April 0,57 dengan Inflasi tahunan 8,96%. Menurut Kepala
         BPS Rusman Heriawan pada April ini faktor pangan tidak lagi penyumbang
         terbesar inflasi, sekarang faktor pemicu inflasi sudah bergeser ke sektor
         energi terutama minyak tanah.
  • Karena dipicu penguatan tekanan inflasi,
         suku bunga BI akhirnya bergerak naik 25 basis point ke level 8,25%.
         Kenaikan ini merupakan kali pertama sejak Agustus 2006 dan masih
         berpotensi naik seiring dengan upaya pengendalian ekspektasi inflasi ke
         depan.
  • Dalam
         tiga bulan pertama 2008, BI menghabiskan dana sebesar USD 7 miliar atau Rp
         63 triliun untuk mengintervensi pasar dalam rangka menstabilkan nilai
         tukar rupiah. Kendati begitu, BI menegaskan cadangan devisa negara hingga
         kini masih tetap aman.
  • LPS
         menaikan suku bunga penjaminan untuk rupiah bagi bank umum sebesar 25
         basis point menjadi 8,25% sebagai penyesuaian naiknya suku bunga acuan BI
         Rate. Kenaikan ini mulai berlaku 15 Mei-14 September 2008. sementara itu
         LPS measih mempertahankan suku bunga penjaminan untuk mata uang dolar AS
         di kiisaran 3,5%, sedangkan untuk suku bunga penjaminan BPR secara
         otomatis naik 0,25% menjadi 11,75%.

 

Indikator2 diatas menujukan kondisi terakhir perekonomian kita secara makro
menjelang kenaikan BBM yang diperkirakan akan naik 23 Mei ini. Kenaikan harga
minyak mentah yang sudah menyentuh level 126 dolar AS per barel, hal inilah salah satu yang dilihat oleh
pemerintah sebagai alsan BBM dinaikan karena subsidi tentu akan memberatkan
APBN. (Ingat Semua Indikator adalah data resmi dari
pemerintah, ada kemungkinan data ini dikeluarkan untuk mendukung naiknya BBM)

Bergesernya faktor penyumbang inflasi dari sektor makanan
ke energi di satu sisi memperlihatkan negara ini mengalami sebuah krisis
energi, (membangunan Kilang juga tidak pernah dilakukan,
Pangkalan Brandan bahkan dengan sengaja dibesituakan supaya Sumatera dipasok
BBM dari Malaysia dan Singapura dengan alasan
lebih efisien

Sampai sekarang, kilang BBM juga
tidak pernah dibangun dengan benar,
Iwan Nurdin). Selain
dominasi calo minyak serta tekanan pasar bebas, tentu banyak faktor lain yang
menimbulkan kenapa pemerintah tidak pernah mau membangun kilang, seperti akan
kembali memberatkan APBN. Tentunya yang akan garap proyek
adalah Bakrie dan Medco yang selama ini dianggap sebagai Borjuasi nasional.

 

Dilihat dari sisi pandang ekonomi perbankan yang
menunjukan berbagai spekulan terkait dengan krisis subprime mortage yang tak kunjung berakhir, berbagai spekulasi
memperkirakan perbankan nasional bisa bertahan asal kebijakan BI agak sedikit
bertentangan dengan ekonomi pasar (artinya selama BI masih menintervensi pasar
maka kondisi perbankan kita bisa bertahan dari buble economic)  lain halnya
dengan aliran hot Money yang terus
mengalir lewat SBI yang telah dimulai dilelang secara Internasional di Singapur.
Hal ini bisa saja membuat ekonomi kita mengalami krisis kedua ketika dana ini
ditarik secara serentak oleh para pemiliknya atau saat jatug tempo pemerintah
tidak mempunyai dana cadangan (Jadi Ingat Eli Salomo
pernah minta data ini)
, apalagi tingkat kepercayaan masyarakat terhadap
lembaga keuangan agak sedikit memburuk setelah terjadinya korupsi di berbagai
bank nasional. Yang perlu di perhatikan adalah Sektor kredit terutama kredit
konsumsi, kemungkinan kredit di sektor ini akan macet, karena dengan naiknya
BBM ada kemungkinan retrun  kredit akan sulit dilakukan.

 

Suku Bunga acuan yang naik semenjak Agustus 2006 (8%)
hingga awal Mei menjadi 8,25% di prediksi akan menembus angka dua digit akhir
tahun ini. BI Rate yang naik ini serta Inflasi yang terus menekan dan isu
naiknya harga BBM semakin memukul kondisi perkonomian. Gejolak di pasar
keuangan memang belum terjadi, namun hal ini perlu diwaspadai terlebih kondisi
politik menjelang pemilu 2009 terus menghangat. Kondisi sektor UMKM kita sangat
lemah karena selama ini terbiasa menerima kucuran kredit, kredit ke sektor ini terus
menguat hal ini dibuktikan dengan penyaluran berbagai macam program perbankan
yang di catat BI telah seribu triliun rupiah lebih.

 

Suku bunga penjaminan yang dinaikan
LPS setelah BI Rate dinaikan tentunya akan memicu naiknya suku bunga perbankan,
yang artinya daya beli masyarakat akan terus menurun, sehingga bakal memicu
over produksi berserta efek dominonya…….(pengangguran, capital flight, dll)

 

Subsidi silang yang dijanjikan sampai detik ini
tidak pernah terbukti secara kongkrit, biaya pelayanan publik masih terus
tinggi (kesehatan, pendidikan, dll. )
Indonesia ekspor 70% batubara ke luar negeri, (padahal
tahun ini akan dibangun 10 lebih PLTU, pastinya menggunakan batu bara
) Indonesia
pengekspor LNG terbesar di dunia Indonesia ekspor 500 ribu bph minyak (kompas).
J
adi BBM naik atau tidak rakyat
terap dimiskinkan secara struktural.

 

 

 

 Moga para Steakholder di negara ini akan
berlaku seperti yang kita harapkan

Amin….

 

 

Aprio Rabadi

Leave a Reply