Archive for June, 2008

Cinta Kata Lain Untuk Tidur Denganmu

Saturday, June 14th, 2008

Tubuh
sepasang mahluk tuhan yang berlainan jenis kelamin saling mengunci
dengan posisi terbalik, tubuh si perempuan tak henti-henti
menggelinjang, sedang si pria tetap tenang, hanya lidahnya yang
bergerak menjilati pangkal selangkangan si perempuan. Sudah lebih dari
lima belas menit mereka begitu dalam ruangan yang udaranya disejukan
oleh mesin yang katanya mampu membunuh virus serta bakteri yang
bertebangan di udara. Televisi 29 inci yang terletak di atas sebuah
meja itu menyala tanpa ada yang menonton. Cahaya itu satu-satunya
sumber cahaya dalam ruangan tersebut. Itulah ungkapan perasaan senang
setelah ngobrol selama kurang dari sejam di sebuah kafe, semuanya
tampak akan berakhir disini dan rasanya sepertiga persoalan dunia ini
selesai sudah.

 

 

 

29 April 1992, 08.30 malam.

 

Lampu-lampu
yang menyinari kafe itu seperti kunang-kunang yang menari menyambut
malam.tidak begitu ramai, dipojok dekat pintu masuk duduk dua orang
yang berbicara tentang bagaimana menjatuhkan Soeharto dari kekuasaan,
di dekat jendela yang mengarah ke jalan raya  sepsang muda-mudi tertawa cekikikan, mearsa geli entah karena apa.

 

 

 

Dua
buah meja tampak kosong, pelayannya pun tampak ngobrol dengan santai di
balik meja bartender. Ruangan kafe ini tidak begitu besar, namun mampu
menghadirkan suasan yang luas, entah karena pilihan cat temboknya yang
bewarna putih, dihiasi oleh lukisan serta potret abstrak, atau hanya
kesilapan mata, karena memang tidak begitu banyak orang berseliweran. Disinilah banyak kisah menarik hadir untuk diketengahkan.

 

 

 

Duduk
di salah satu meja di sudut bagian belakang, mukanya tak kelihatan,
hanya leher sampai ke bagian pinggang yang di terpa cahaya. Tangannya
memegagang gelas,lalu memutar-mutarnya, aroma kopi yang begitu
mengental akan tercium bagi siapa saja yang berdiri dekat sana.
Sementara tangan satunya lagi memegang rokok kretek merk terkenal. Dia
memakai kemeja kotak-kotak dipadu dengan celana jeans.  Kira-kira sudah setengah jam dia disana. Sepertinya dia menunggu seseorang. 

 

 

 

Pas
hembusan asap rokok hasil hisapan yang ketiga, seorang perempuan
berjilbab lebar bewarna ungu muda menhampiri meja itu, dengan
mengucapkan salam khas agama islam dia menyapa laki-laki tersebut.
“sudah lama menunggu mas?” katanya sambil tersenyum. Maaf saya
terlambat, tadi harus ke kampus dulu ambil tugas”, lanjutnya. Laki-laki
tersebut hanya menganggukan kepala dan tersenyum agak sedikit masam.
“oya mas ada apa? Kok tiba-tiba ngajak ketemuan?”.

 

 “begini
rin, aku sudha lama pengen ketemu ama kamu dan mau ngobrolin sesuatu
yang agak serius sama kamu, aku ingin menayakan sesuatu, apa kata lain
dari cinta menurutmu?”.

 

 Suasana agak hening sebentar….

 

“kok tiba-tiba menayakan hal itu mas”

 

“nggak aku cuman pingin dalam sudut pandang mu”

 

‘hmmmm……cinta menurutku bentuk ungkapan perasaan seeorang terhadap orang lain”

 

“hanya itu?…”

 

“ada
cinta kepada orang tua, cinta kepada adik, kakak, cinta kepada manusia
lainnya….dan menurut agama Islam konsep pacaran juga tidak dikenal,
yang ada hanya ‘ta’aruf’ atau proses saling mengnal satu lama lain…..menurut pandanganku sih begitu mas…”

 

 

 

 Kembali
rokok yang hanya tinggal seujung kuku dia hisap dalam, sebelum
dicelupkan ke dalam asbak yang terbaut dari kaca..hembusan asap
terakhir menunjukan rasa sedikit kecewa atas jawaban tadi. “ya sudah,
kamu habiskan minummu dan langsung pulang ya… sudah malam, aku juga
ada janji ketemu sama orang”

 

“terus kapan kita bisa ketemu lagi mas?”

 

“ntar aku hubungi kamu lagi…”

 

 

 

Rini
pun beranjak pergi setelah ia betulkan jilbabnya yang agak mirik
sehingga memperlihatkan auratnya. Sepeninggal Rini, laki-laki tersebut
kembali mengambil rokok dan menyalakannya…matanya kembali melirik ke
arah jam. Baru jam setengah sepuluh pikirnya. Suasana kafe tersebut
tenyata sudah agak berubah, tal ada lagi tertawa cekikikan sepasang
remaja tadi, yang ada hanyalah tertawa lepas para pekerja yang ingin
menghabiskan malam sabtu ini setelah lima hari kerja penuh berikut
lembur serta bonus caci maki bosnya. Wajar kemudian setiap pekerja
butuh tertawa lepas, bukan senyuman, cengiran basa-basi menyenagkan orang.  

 

 

 

Kafe ini agak berbeda dengan kafe kebanyakan, jikalau kafe lain menghadirkan live musik atau putaran cakram padat pada player-nya,
kafe ini malah tidak menghadirkan musik sedikitpun, tak ada alat-musik,
tak ada panggung, tak ada apa-apa, tak jauh berbeda dengan warung kopi
di pinggir jalan sebenarnya. Namun karena itulah ia menynangi kafe ini,
dia bisa menikmati suasana lain. Hanya itu alasan ia sering menunjungi
kafe ini.

 

 

 

Kembali
terngiang dikepalanya, petemuan tadi siang di rumah Mawar, dirumah yang
sederhana itu ia duduk termenug lama sewaktu Mawa tengah menyiapkan
secangkir kopi di belakang. Ini merupakan kali ketiga dia menunjungi
rumah ini, setelah yang terakhir berakhir dengan kericuhan, waktu itu
ia disangka selingkuh dengan Mawar, padahal ia tahu Mawar adalah
tipikal istri yang setia, tak akan berani ia menghianati sang suami
walaupun ia tidak mencintanya. Ia waktu itu masih yakin Mawar adalh
calon istrinya, jodohnya yang diciptakan tuhan dari tulang rusaknya.
Mawar adalah segalanya, mungkin sampai sekarang. Tadi siang Mawar
kembali menolak cintanya, Mawar menyatakan statusnya sekaang sebagai
penghalang perpaduan cinta mereka.

 

 

 

Ketika
beranjak dari rumah Mawar, kembali ia berpikir, apa sih hebatnya
Mawar?, secara fisik dia anggap biasa saja, payudara tak besar-besar
amat, pantat juga demikian, kulit tak begitu terawat. Secara sifat,
Mawar juga tak jauh bebeda dengan perempuan lainnya, suka dimanja, suka
belanja, suka berpikir aneh-aneh, seperti seorang sutradara yang
mempunyai skenario dikepalanya, dan menuntut setiap peran harus
dimainkan secara maksimal kalau tidak siap-siap ditendang.

 

 

 

Aku
mungkin penasaran saja, hati ini mungkin penasaran saja untuk
mengetahui bagaimana kalau aku memang pacaran sama Mawar, bagiamana
rasanya, enakkah?, bahagiakah?, senangkah?. Aku juga penasaran
bagaimana rasanya menggandeng Mawar ke setiap sudut kota, bagaimana
rasanya memamerkannya ke seluruh penghuni kota, serta bagaimana asanya
menyentuh bibi tipisnya dengan bibirku. Mungkin cuman itu alasan aku
tetap memujanya.

 

 

 

Gemincing
pintu kafe membuyarkan pikirannya, sekilas ia melihat seorang perempuan
muda masuk dan kemudian menghampiri mejanya, memakai baju kaus
bergambar abstrak khas distro, becelanakan jins model pinsil,
sepatu kets, tas selempang yang senada dengan kausnya, tak lupa
sederetan gelang melingkar di lengan kirinya. Tanpa basa-basi perempuan
yang kalau dihitung-hintung berusia belum genap duapuluh tahun itu
mengambil sebatang rokok dan langsung menyalakannya, baru setelah
hisapan ketiga dia memulai pembicaraan.

 

“gimana brur…dah lama..?, sori gue agak telat..biasa nongkong dulu tadi di tempat temen…”

 

“hmmm.. aku juga baru nyampe…baru habis dua batang rokok…dah lama juga ya kita tidak ketemu…?. apa kesibukanmu sekarang?

 

“Yup..begitulah…aku masih coba melatih tehnik gitar…tapi tampaknya tidak begitu menunjukan peningkatan, gue masih lemah di arpegio dan, pinch harmonic. Baru dua bulan ini gue menguasai tehnik tipping dan legato”.

 

“Pacarmu gimana? Lanjutku

 

“ ah sudahlah…dia makin nggak asik…masak dia nuntut gue ngasih tau ada dimana, sama siap, pulanhg jam brapa dan seabrek tuntutan lainnya, yang gue anggap terlalu kekanak-kanakan”

 

“btw ada apa kok tiba-tiba ngajak ketemuan..gue mo pulang nih..”

 

 “Kok buru-buru amat sih…santai aja disini dulu..kita ngobrol…”

 

“bukan begitu… dah seminggu blom pulang kerumah…lo nggak takut nanti di laporin ke polisi ama babe gue dengan tuduhan melrikan anak dibawa umur, pencabulan serta perkosaan…?’

 

“hahahhahhhahha”

 

“jangan ketawa, serius nih..cepetan ngomong…”

 

“oke…oke…gini poy…kamu tahu kan kerjaanku…tiba-tiba otakku ini berontak pengin tahu apa arti kata cinta”

 

“hahaha dasar laki-laki…..aneh….gue
pikir ada berita penting apa sehingga kita harus ketemu….kok nggak
lewat telepon aja sih…kalo cuman nanya itu..sekarang teknologi dah
canggih, mamfaatkan dong..”

 

“justru itu…secanggih apapun teknologi..dia tak bisa menggantikan mood of communication,
kita nggak bakalan tahu ekspresi lawan bicara, kita tak tahu gestur
tubuh lawan bicara, kita juga nggak tahu mimik wajah lawan bicara, dan
akhinya kita bisa menyalahkan arti dari poin pembicaraan, so…, bertemu dengan betatap muka adalah soal penting dalam hubungan antar manusia..”

 

“oke…lo jangan mulai ceramah deh…untuk jawab pertanyaan lo tadi gue
coba jawab……hmmmm….cinta tidak ada…cinta itu hanyalah omong
kosong ratapan anak manusia, cinta adalah milik orang-orang yang
mempunyai jiwa yang labil, yang butuh pegangan, cinta tak lain dari
pembicaraan bodoh sambil membayangkan masa depan, hanya seorang pemimpi
yang tetap membicaakan cinta, dan yang terakhir cinta hanyalah kata
lain untuk mengatakan aku ingin tidur denganmu”

 

Lagi-lagi kehinengan menyelinap di tengah pembicaraan.

 

“kok diam? Bagaimana menurutmu? Lanjut popoy.

 

“nggak aku bepikir…”

 

“bepikir apa”

 

“berpikir…jangan-jangan saat ini aku mencintaimu…”

MDH (4)

Monday, June 2nd, 2008

NEGASI DARI
NEGASI

Hukum kedua
dari dialektika adalah ‘hukum negasi dari negasi’, dan sekali lagi, ini
kedengaran lebih rumit daripada yang sebenarnya.
‘Negasi’ dalam hal ini secara sederhana berarti
gugurnya sesuatu, kematian suatu benda karena ia bertransformasi (berubah)
menjadi benda yang lain. Sebagai contoh, perkembangan masyarakat kelas dalam
sejarah kemanusiaan menunjukkan negasi (gugurnya) masyarakat sebelumnya yang
tanpa-kelas. Dan di masa yang akan datang, dengan adanya perkembangan
komunisme, kita akan mendapati suatu masyarakat tanpa-kelas yang lain, yang ini
akan berarti negasi terhadap semua masyarakat kelas yang ada sekarang.

Jadi, hukum negasi dari negasi secara sederhana menyatakan bahwa seiring
munculnya suatu sistem (menjadi ada/eksis), maka ia akan memaksa sistem lainnya
untuk sirna (mati). Tetapi, ini bukan berarti bahwa sistem yang kedua ini
bersifat permanen atau tak bisa berubah. Sistem yang kedua itu sendiri, menjadi
ter-negasi-kan akibat perkembangan-perkembangan lebih lanjut dan proses-proses
perubahandalam masyarakat. Karena masyarakat kelas telah menjadi negasi dari
masyarakat tanpa-kelas, maka masyarakat komunis akan menjadi negasi dari
masyarakat kelas – negasi dari negasi.

Konsep lainnya dari dialektika adalah hukum ‘interpenetration of opposites’
(saling-menerobos dari hal-hal yang bertentangan).
Hukum
ini secara cukup sederhana menyatakan bahwa proses-proses perubahan terjadi
karena adanya kontradiksi-kontradiksi – karena konflik-konflik yang terjadi di
antara elemen-elemen yang berbeda, yang melekat dalam semua proses alam maupun
sosial.

Barangkali
contoh paling tepat dari ‘interpenetration of opposites’ dalam ilmu pengetahuan
alam adalah ‘teori quantum’. Teori ini didasarkan atas konsep bahwa energi
memiliki karakter ganda – yaitu untuk beberapa tujuan, menurut beberapa
eksperimen, energi eksis dalam bentuk gelombang, misalnya gelombang elektro
magnetik.
Tetapi untuk
tujuan-tujuan lain, energi mewujudkan diri sebagai partikel. Dengan kata lain,
sama sekali diterima di kalangan ilmuwan bahwa materidan energi sebetulnya bisa
eksis dalam dua bentuk yang berbeda pada satu waktu yang sama – di satu sisi,
sebagai sejenis gelombang yang tak kelihatan, dan di sisi lain, sebagai sebuah
partikel dengan ‘quantum’ (jumlah) energi tertentu yang ada di dalamnya.

Karena itu, basis dari teori quantum dalam ilmu fisika modern adalah
kontradiksi. Namun ada banyak lagi kontradiksi yang dikenal dalam ilmu
pengetahuan. Energi elektromagnetik, misalnya, menjadi bergerak akibat dorongan
positif dan negatif atas satu sama lain. Magnetisme tergantung pada eksistensi
kutub utara dan kutub selatan. Hal-hal ini tidak bisa eksis secara terpisah
(sendiri-sendiri). Mereka eksis dan beroperasi justru akibat kekuatan-kekuatan
yang bertentangan, yang ada dalam sistem yang satu dan sama.

Hal yang serupa, setiap masyarakat saat ini terdiri atas elemen-elemen
berbeda yang bertentangan, yang bergabung bersama dalam satu sistem, yang
membuat mustahil bagi masyarakat apapun, di negeri manapun untuk tetap stabil
dan tak berubah. Metode dialektis – bertentangan dengan metode logika formal – melatih
kita untuk mengidentifikasi (mengenali) kontradiksi-kontradiksi ini, dan dengan
demikian berarti mempelajari secara mendalam perubahan yang sedang terjadi.

Kaum Marxis tidak merasa malu untuk mengatakan bahwa terdapat elemen-elemen
yang bertentangan dalam setiap proses sosial. Sebaliknya, justru dengan
mengenali dan memahami kepentingan-kepentingan yang bertentangan, yang terdapat
dalam proses yang sama itu, maka kita akan mampu untuk mengarahkan perubahan
yang diinginkan, dan konsekuensinya juga berusaha untuk mengidentifikasi maksud
dan tujuan yang perlu dan mungkin dalam situasi seperti itu untuk dirumuskan
dari sudut pandang kelas-buruh.

Pada saat yang sama, Marxisme tidaklah mengabaikan logika formal sama
sekali. Akan tetapi, adalah penting untuk melihat – dari sudut pandang
pemahaman terhadap perkembangan-perkembangan sosial – bahwa logika formal
haruslah ditempatkan pada posisi kedua.

Kita semua menggunakan logika formal untuk keperluan sehari-hari. Logika
formal memberikan perhitungan-perhitungan yang berguna bagi kita untuk
komunikasi dan melaksanakan aktivitas sehari-hari.
Kita tidak akan bisa menjalani kehidupan normal
tanpa berbasa-basi menggunakan logika formal, tanpa menggunakan perhitungan
bahwa satu sama dengan satu. Akan tetapi, di sisi lain, kita harus melihat
keterbatasan-keterbatasan logika formal – keterbatasan-keterbatasan yang
menjadi jelas dalam ilmu pengetahuan jika kita mempelajari proses-proses secara
mendalam dan mendetail, dan juga ketika kita mempelajari proses-proses sosial
dan politik dengan lebih teliti.

Dialektika sangat jarang diterima oleh para ilmuwan. Beberapa ilmuwan
dialektis, tetapi mayoritas, bahkan sampai saat ini, selalu mencampur-adukkan
pendekatan materialis dengan segala macam ide-ide formal dan idealistik. Kalau
seperti itu yang terjadi di bidang ilmu pengetahuan alam, maka di bidang ilmu
pengetahuan sosial adalah jauh lebih parah. Penyebabnya cukup jelas. Jika Anda
mencoba meneliti masyarakat dan proses-proses sosial dari sudut pandang ilmiah,
maka Anda tidak bisa menghindari untuk sampai pada kontradiksi-kontradiksi
dalam masyarakat kapitalis, dan kebutuhan untuk transformasi sosial masyarakat.

Namun perguruan-perguruan tinggi, yang seharusnya menjadi pusatstudi dan
penelitian, dibawah sistem kapitalis ini jauh dari independent terhadap kelas
yang berkuasa dan negara. Itulah sebabnya mengapa ilmu pengetahuan alam masih
memiliki suatu metode ilmiah yang cenderung kepada materialisme dialektis;
tetapi ketikasampai pada ilmu pengetahuan sosial, maka Anda akan mendapati di
sekolah tinggi dan politeknik, serta universitas-universitas, formalisme dan
idealisme yang paling parah. Hal ini bukannya tidak berhubungan dengan
kepentingan-kepentingan tertentu dari para profesor dan akademisi yang digaji
tinggi. Adalah jelas dan tak bisa dihindari bahwa posisi istimewa mereka di
mata masyarakat akan memiliki beberapa cerminan dan pengaruh pada apa yang
harus mereka ajarkan. Pandangan dan prasangka-prasangka subyektif mereka
sendiri akan disertakan dalam ‘pengetahuan’ yang mereka sampaikan kepada
mahasiswa mereka, dan begitu seterusnya sampai ke tingkat sekolah-sekolah.

Sejarawan borjuis, khususnya, adalah di antara ilmuwan-ilmuwan sosial yang
paling berpandangan sempit.
Berapa banyak kita telah
melihat contoh-contoh sejarawan borjuis yang membayangkan bahwa sejarah
berakhir kemarin! Di sini, di Inggris, mereka semua nampaknya mengakui
masa-masa mengerikan sewaktu imperialisme Inggris abad ke-17, 18, sampai abad
ke-19; bahwa Inggris terlibat dalam lalu lintas perdagangan budak; bahwa
Inggris juga bertanggung jawab terhadap penaklukan rakyat di tanah-tanah
jajahan yang paling berdarah; bahwa Inggris juga harus bertanggung jawab
terhadap eksploitasi paling buruk terhadap buruh Inggris, termasuk wanita dan
anak-anak di tambang-tambang batu bara, di pabrik-pabrik pemintalan kapas, dst.

Mereka akan menerima kenyataan adanya kekejaman dan ketidakadilan ini,
tetapi hanya sampai kemarin. Namun jika kita bicara tentang masa sekarang,
tentu saja, mereka akan menganggap bahwa imperialisme Inggris tiba-tiba jadi
demokratis dan progressif.

dan hal tersebut sepenuhnya cuma satu sisi saja, satu cara pandang yang
sepenuhnya berat sebelah dalam melihat sejarah, yang secara diametris
berlawanan dengan metode Marxisme. Marx dan Engels terbiasa untuk memandang
proses-proses sosial dari sudut pandang dialektis yang sama sebagaimana mereka
memandang alam - yaitu memandangnya dari sudut pandang proses-proses itu
sebenarnya terjadi.

dalam berbagai diskusi dan debat kita sehari-hari di dalam gerakan buruh,
kita akan seringkali menjumpai orang-orang yanf formalis. Bahkan banyak orang
kiri akan memandang berbagai hal dalam cara yang kaku dan formal, tanpa
pemahaman akan arah yand di dalamnya hal-hal tersebut tadi bergerak.

Sayap kanan di
dalam gerakan buruh, dan juga beberapa orang di sayap kiri, percaya bahwa teori
Marxis adalah dogma, yakni, mereka percaya bahwa "teori" itu
selayaknya beban seberat 600 pound (1 pound = 2,2 kg) di atas pundak seorang
aktivis, dan semakin cepat si aktivis itu membuang beban tersebut, maka ia akan
bisa makin aktiv dan efektif jadinya.

namun itu
adalah konsepsi yang sepenuhnya keliru mengenai keseluruhan sifat teori Marxis.
pada kenyataan yang sesungguhnya, Marxisme adalah lawan dari dogma. Marxisme
setepat-tepatnya adalah metode untuk memahami sepenuhnya proses-proses
perubahan yang terjadi di sekitar kita.

Tidak ada
satupu hal yang ajeg, dan tiada pula sesuatupun yang tetap tak berubah. adalah
kaum formalis yang melihat masyarakat sebagai foto yang tak bergerak, mereka
dikuasai oleh situasi-situasi yang mereka hadapi sebab mereka tidak mampu
melihat bagaimana dan mengapa berbagai hal akan berubah. pendekatan macam
beginilah yang dapat dengan mudah menggiring orang pada penerimaan yang
dogmatis dari adanya berbagai hal sebagaimanan hal itu ada ataupun telah ada
sebagai benda yang ajeg, tanpa pemahaman tentang ketidakmungkinannya perubahan
untuk dielakkan.

MDH (3)

Monday, June 2nd, 2008

KUANTITAS
MENJADI KUALITAS

Marilah kita
mulai dengan hukum transformasi dari kuantitas menjadi kualitas. Hukum ini
menyatakan bahwa proses-proses perubahan – gerak di alam semesta – tidaklah
perlahan (gradual), dan juga tidak setara. Periode-periode perubahan yang
relatif gradual atau perubahan kecil selalu diselingi dengan periode-periode
perubahan yang sangat cepat – perubahan semacam ini tidak bisa diukur dengan
kuantitas, melainkan hanya bisa diukur dengan kualitas.

Sebagai contoh,
kembali kita ambil dari ilmu alam, coba kita bayangkan saat kita memanaskan
air. Anda hanya bisa betul-betul mengukur ("melakukan kuantifikasi")
dalam hal derajat temperatur/suhu, yaitu perubahan ketika Anda menambahkan
panas terhadap air itu. Katakanlah, dari 10 derajat Celcius (ini adalah
temperatur normal air keran) menjadi sekitar 98 derajat Celcius, maka perubahan
itu akan tetap kuantitatif, yaitu air akan tetap berupa air, walaupun menjadi
lebih panas. Tetapi kemudian akan sampai suatu tahap dimana perubahan itu
menjadi kualitatif, dan air pun berubah menjadi uap. Anda tidak bisa lagi
menjelaskan perubahan itu hanya secara kuantitatif ketika air itu dipanaskan
dari 98 derajat menjadi 102 derajat Celcius. Kita harus mengatakan bahwa suatu
perubahan kualitatif (air menjadi uap) telah terjadi akibat akumulasi perubahan
kuantitatif (menambahkan panas terus-menerus).

Dan inilah yang
dimaksud oleh Marx dan Engels ketika mereka menyebutkan transformasi dari
kuantitas menjadi kualitas. Hal yang sama dapat dilihat pada perkembangan
species. Jika kita melihat ke sekeliling, kita akan mendapati tingkat varitas
dari homo sapiens. Varitas itu dapat diukur secara kuantitatif, misalnya tinggi
badan, berat badan, warna kulit, panjang hidung, dll. Namun jika
perubahan-perubahan evolusioner bergerak maju sampai suatu tahap, dibawah
pengaruh perubahan-perubahan lingkungan, maka perubahan-perubahan kuantitatif
akan berakumulasi menjadi suatu perubahan kualitatif. Dengan kata lain, Anda
tidak akan lagi bisa menandai perubahan pada suatu species hewan atau tumbuhan
itu hanya dengan detail-detail (rincian) kuantitatif. Species tersebut akan
jadi berbeda secara kualitatif. Sebagai contoh, kita, sebagai suatu species,
secara kualitatif berbeda dengan simpanse atau gorila, dan mereka ini pun
secara kualitatif berbeda dengan species mamalia lainnya. Dan
perbedaan-perbedaan kualitatif itu, lompatan-lompatan evolusioner itu, terjadi
akibat perubahan-perubahan kuantitatif di masa lalu.

Ide Marxisme
ialah bahwa akan selalu terdapat periode-periode perubahan gradual yang
diselingi dengan periode-periode perubahan tiba-tiba. Dalam kehamilan,
misalnya, ada suatu periode perkembangan yang gradual, dan kemudian suatu
periode perkembangan yang sangat mendadak di penghujung kehamilan itu. Sangat
sering kaum Marxis menggunakan analogi (perbandingan) kehamilan untuk
menggambarkan perkembangan perang dan revolusi. Hal tersebut menunjukkan
lompatan-lompatan kualitatif dalam perkembangan sosial; tetapi perubahan itu
muncul sebagai akibat akumulasi kontradiksi-kontradiksi kuantitatif dalam
masyarakat.

MDH (2)

Monday, June 2nd, 2008

DIALEKTIKA

Dialektika
secara sederhana adalah logika gerak, atau logika pemahaman umum dari para
aktivis dalam gerakan.
Kita
semua tahu bahwa benda-benda tidaklah diam; dan benda-benda itu berubah. Akan
tetapi, ada suatu bentuk logika lain yang bertentangan dengan dialektika, yang
kita sebut ‘logika formal’, yang sekali lagi juga melekat dalam masyarakat
kapitalis. Barangkali perlu untuk mulai menjelaskan secara singkat apa yang
dimaksud dengan metode ini.

Logika formal
didasarkan pada apa yang dikenal sebagai ‘hukum identitas’, yang menyatakan
bahwa ‘A’ sama dengan ‘A’ – yaitu bahwa benda-benda adalah seperti itu apa
adanya, dan bahwa benda itu berposisi pada hubungan yang tertentu (pasti) satu
sama lain. Ada hukum-hukum turunan lain yang didasarkan pada hukum identitas;
yaitu misalnya, jika ‘A’ sama dengan ‘A’, maka ‘A’ tidak mungkin sama dengan
‘B’ atau ‘C’.

Secara sekilas,
metode pemikiran ini nampak seperti pemahaman umum; dan pada kenyataannya,
logika formal telah menjadi alat yang sangat penting, sarana yang sangat
penting dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan revolusi industri, yang
membentuk masyarakat sekarang ini.
Perkembangan matematika dan aritmatika dasar, misalnya, adalah didasarkan
pada logika formal. Anda tidak bisa mengajarkan tabel perkalian atau
penjumlahan kepada seorang anak tanpa menggunakan logika formal. Satu ditambah
satu sama dengan dua, bukan tiga. Hal yang sama, metode logika formal juga
merupakan basis bagi perkembangan ilmu mekanika, kimia, biologi, dll.

Sebagai contoh, pada abad ke-18 ahli biologi Skandinavia, Linnaeus,
mengembangkan sebuah sistem klasifikasi untuk semua tumbuhan dan hewan yang
dikenal. Linnaeus membagi semua benda hidup ke dalam kelas-kelas, ordO-ordo,
dan keluarga; misalnya dalam ordo primata, keluarga hominid, genus homo, dan
mewakili species homo sapiens.

Sistem klasifikasi merupakan sebuah langkah maju besar dalam biologi. Untuk
pertama kalinya, sistem ini memungkinkan dilakukannya studi mengenai tumbuhan
dan hewan yang betul-betul sistematis, untuk membandingkan dan membedakan
species hewan dan tumbuhan. Tetapi sistem ini didasarkan pada logika formal.
Sistem ini didasarkan pada pernyataan bahwa homo sapiens sama dengan homo
sapiens; bahwa musca domestica (lalat) sama dengan musca domestica; bahwa
cacing tanah sama dengan cacing tanah; dst. Dengan kata lain, sistem
klasifikasi ini adalah sistem yang kaku dan pasti. Menurut sistem ini, tidak
mungkin suatu species sama dengan species lain. Atau, jika bisa sama, berarti
sistem klasifikasi ini akan gugur.

Hal yang sama diterapkan dalam bidang kimia, dimana teori atom Dalton
merupakan langkah maju yang sangat besar. Teori Dalton didasarkan pada ide
bahwa materi tersusun atas atom-atom, dan bahwa masing-masing tipe atom sama
sekali khusus dan khas untuk tipe itu sendiri – bahwa bentuk dan berat suatu
atom adalah khusus untuk unsur tertentu itu, dan tidak sama dengan yang lain.

Setelah Dalton, juga ada sebuah sistem klasifikasi unsur-unsur yang hampir
sama kaku-nya dengan sistem Dalton, yang kembali didasarkan pada logika formal
yang kaku, yang mengatakan bahwa sebuah atom hidrogen adalah sebuah atom
hidrogen; sebuah atom karbon adalah sebuah atom karbon; dsb. Dan jika sebuah
atom bisa menjadi atom lainnya, maka keseluruhan sistem klasifikasi ini, yang
telah membentuk basis bagi ilmu kimia modern, akan gugur.

Kini penting bagi kita untuk melihat bahwa terdapat
keterbatasan-keterbatasan dalam metode logika formal. Logika formal adalah
metode sehari-hari yang sangat bermanfaat, dan memungkinkan kita untuk
mempunyai perhitungan-perhitungan dalam mengidentifikasi benda-benda. Misalnya,
sistem klasifikasi Linnaean masih berguna bagi ahli-ahli biologi; tetapi,
terutama sejak munculnya karya Charles Darwin, kita juga jadi bisa melihat
kelemahan-kelemahan dalam sistem klasifikasi itu. Sebagai contoh, Darwin
menunjukkan bahwa dalam sistem Linnaean, tipe-tipe tumbuhan diberi nama-nama
tersendiri sebagai species khusus, namun sebenarnya tipe-tipe tumbuhan itu
sangat mirip satu sama lain.

Jadi, bahkan di masa Darwin, sudah mungkin untuk melihat sistem klasifikasi
Linnaean, dan mengatakan, ‘Oh, ternyata ada yang salah’. Dan tentu saja, karya
Darwin sendiri memberikan basis yang sistematis untuk teori evolusi, yang untuk
pertama kalinya mengatakan adalah mungkin bagi satu species untuk berubah
(bertransformasi) menjadi species lainnya. Dan ini menunjukkan adanya lobang
besar dalam sistem Linnaean. Sebelum Darwin, orang menganggap bahwa jumlah
species di planet ini tepat sama dengan jumlah species yang diciptakan oleh
Tuhan dalam masa enam hari proses penciptaan – kecuali, tentu saja,
species-species yang musnah akibat Banjir Besar – dan bahwa species-species itu
tetap tidak berubah selama berjuta-juta tahun. Namun Darwin menghasilkan ide
perubahan species, sehingga tidak bisa dihindari lagi, metode klasifikasi juga
harus diubah.

Apa yang berlaku di bidang biologi juga berlaku di bidang kimia. Di akhir
abad ke-19, para pakar kimia menjadi sadar bahwa adalah mungkin bagi satu unsur
atom untuk berubah menjadi unsur lainnya. Dengan kata lain, atom tidaklah
mutlak bersifat khusus dan tertentu saja pada unsurnya sendiri. Kini kita
mengetahui bahwa banyak atom, banyak unsur kimia yang tidak stabil. Sebagai
contoh, uranium dan atom-atom radioaktif lainnya akan pecah dalam proses
perjalanan waktu, dan menghasilkan atom-atom yang sama sekali berbeda, dan
dengan kandungan serta berat kimia yang berbeda pula.

Jadi, kita bisa melihat bahwa metode logika formal mulai gugur dengan
adanya perkembangan ilmu pengetahuan itu sendiri. Akan tetapi, metode
dialektika-lah yang menyebabkan bisa ditariknya kesimpulan-kesimpulan dari
penemuan-penemuan faktual ini, dan menunjukkan bahwa tidak ada kategori yang
mutlak atau pasti, baik di alam ataupun di masyarakat. Sementara seorang yang
mengatakan logika formal mengatakan ‘A’ sama dengan ‘A’, maka seorang yang
dialektis akan mengatakan bahwa ‘A’ belum tentu sama dengan ‘A’. Atau ambillah
contoh praktis yang digunakan Trotsky dalam tulisan-tulisannya tentang hal ini:
satu ons gula pasir tidak akan tepat sama dengan satu ons gula pasir lainnya. Adalah
hal yang baik jika Anda menggunakan patokan takaran seperti itu untuk membeli
gula pasir di toko, tetapi jika Anda lihat secara teliti, akan kelihatan bahwa
takaran itu tidak tepat sama.

Jadi, kita perlu memiliki suatu bentuk pemahaman, suatu bentuk logika, yang
menjelaskan kenyataan bahwa benda-benda, kehidupan, dan masyarakat, berada
dalam keadaan pergerakan dan perubahan yang konstan.
Dan
bentuk logika itu, tentu saja adalah: dialektika.

Akan tetapi, di
sisi lain, adalah salah jika kita berpikir bahwa, dialektika menyatakan bahwa
proses di alam semesta adalah setara (genap) dan perlahan (gradual).
Hukum-hukum dialektika – dan perlu dicatat: konsep-konsep ini kedengaran lebih
rumit daripada kenyataan sesungguhnya – hukum-hukum dialektika menjelaskan cara
dimana proses-proses perubahan dalam realitas terjadi.

MDH (1)

Monday, June 2nd, 2008

Matrealisme

JIKA kita
membahas metode Marxisme, maka kita sedang bergelut dengan ide-ide yang
memberikan basis bagi aktivitas-aktivitas kita dalam gerakan buruh,
argumen-argumen yang kita kemukakan ketika kita mengikuti berbagai diskusi, dan
artikel-artikel yang kita tulis.

Telah secara
umum diterima bahwa Marxisme mengambil bentuknya dari tiga akar pokok. Salah
satu dari akar itu ialah analisis Marx tentang politik Prancis, khususnya
revolusi borjuis di Prancis tahun 1790an, dan perjuangan-perjuangan kelas
berikutnya selama awal abad ke-19. Akar lain dari Marxisme adalah apa yang
disebut ‘ekonomi Inggris’, yaitu analisis Marx tentang sistem kapitalis seperti
yang berkembang di Inggris. Akar ketiga dari Marxisme, yang menurut sejarahnya
merupakan titik permulaan Marxisme, adalah ‘filsafat Jerman’, dan aspek
filsafat inilah yang ingin saya bahas di sini.

Untuk memulainya, kita katakan bahwa basis Marxisme adalah materialisme. Maksudnya,
Marxisme dimulai dengan ide bahwa materi adalah esensi dari semua realitas, dan
bahwa materi membentuk akal, dan bukan sebaliknya.

Dengan kata lain, pikiran dan segala sesuatu yang dikatakan berasal dari
pikiran – misalnya ide-ide tentang seni, hukum, politik, moralitas, dan
sebagainya – hal-hal ini pada kenyataannya berasal dari dunia material. ‘Akal’,
yaitu pikiran dan proses berpikir, adalah sebuah produk dari otak; dan otak itu
sendiri, yang berarti juga ide-ide, muncul pada suatu tahap tertentu dari
perkembangan materi hidup. Jadi, akal adalah produk dari dunia material.

Oleh karena itu, untuk memahami sifat sesungguhnya dari kesadaran dan
masyarakat manusia, sebagaimana diungkapkan oleh Marx sendiri, persoalannya
adalah "bukan berangkat dari apa yang dikatakan, dikhayalkan, atau
dibayangkan oleh manusia… agar sampai pada yang namanya manusia dengan bentuk
seperti sekarang; melainkan berangkat dari manusia riil (nyata) dan aktif, dan
berdasarkan basis proses-kehidupan riil manusia yang menunjukkan perkembangan
refleks-refleks dan gaungan-gaungan ideologis dari proses kehidupan ini. Bayangan-bayangan
yang terbentuk dalam otak manusia adalah juga gambaran-gambaran dari
proses-kehidupan material, yang secara empiris dapat dibuktikan kebenarannya
dan terikat pada premis-premis(dalil) material. Jadi, moralitas, agama,
metafisika, dan segala macam ideologi serta bentuk-bentuk kesadaran yang
berhubungan (serupa) dengan itu, tidaklah independent (bebas). Moralitas,
agama, metafisika, dan segala macam bentuk ideologi itu tidak memiliki sejarah,
tidak memiliki perkembangan; tetapi manusia, yang mengembangkan produksi
material dan hubungan material mereka, mengubah – seiring dengan eksistensi
riil mereka – pemikiran dan produk-produk pemikiran mereka. Kehidupan tidak
ditentukan oleh kesadaran, tetapi kesadaran ditentukan oleh kehidupan. Dalam
metode pendekatan pertama (non materialis), titik mulanya adalah kesadaran yang
dianggap sebagai individu hidup; dalam metode pendekatan kedua (materialis),
yang menyesuaikan diri (terhadap keadaanmaterial) adalah individu-individu
hidup riil itu sendiri, sedangkan kesadaran dianggap hanya sebagai kesadaran
mereka."
(Ideologi Jerman, Bab Satu).

Karena itu,
seorang materialis selalu berusaha mencari penjelasan bukan hanya tentang
ide-ide, melainkan juga tentang gejala-gejala material itu sendiri, dalam hal
sebab-sebab material, dan bukan campur tangan supranatural oleh Tuhan, Dewa,
atau yang semacam itu. Dan ini adalah aspek yang sangat penting dari Marxisme,
yang secara tegas menolak metode-metode pemikiran dan logika yang telah mapan
dalam masyarakat kapitalis.

Perkembangan
pemikiran ilmiah di negeri-negeri Eropa pada abad ke-17 dan 18 menunjukkan
ciri-ciri yang sangat kontradiktif (bertentangan), yang masih tetap khas
(serupa) dengan pendekatan para teoritisi borjuis masa kini. Di satu sisi,
terdapat perkembangan ke arah metode materialis.

Para

ilmuwan mencari sebab-sebab. Mereka tidak semata-mata menerima gejala-gejala
alam sebagai keajaiban Tuhan, melainkan mencari penjelasan atas gejala-gejala
itu. Namun seiring dengan itu, para ilmuwan ini tidak memiliki pemahaman
materialis yang konsisten dan menyeluruh; dan sering kali, di balik
penjelasan-penjelasan tentang gejala alam, ujung-ujungnya mereka masih mencari
kaitannya dengan campur tangan Tuhan dalam proses itu.

Pendekatan seperti
itu berarti menerima, atau setidaknya membuka kemungkinan, bahwa dunia material
yang kita diami ini dibentuk oleh keuatan dari luar dunia, dan bahwa kesadaran
atau ide-ide muncul lebih dahulu, yaitu dalam hal bahwa kesadaran atau ide-ide
bisa eksis (ada) secara independent (tidak terikat) pada dunia riil. Pendekatan
ini, yang merupakan lawan filosofis dari materialisme, kita sebut ‘idealisme’.

Menurut
pendekatan idealis ini, perkembangan umat manusia dan masyarakat – baik seni,
ilmu pengetahuan, dll. – ditentukan bukan oleh proses material, melainkan oleh
perkembangan ide-ide, oleh penyempurnaan atau turun-temurunnya pemikiran
manusia. Dan bukanlah kebetulan belaka bahwa pendekatan umum ini, dinyatakan
atau tidak, ternyata menyelubungi semua filsafat kapitalisme.

Para

filsuf dan sejarawan borjuis secara umum menerima sistem yang ada sekarang
secara apa adanya. Mereka menerima bahwa kapitalisme adalah suatu sistem yang
telah lengkap dan tuntas, yang tidak bisa digantikandengan sebuah sistem yang
baru dan lebih maju. Dan mereka berusaha untuk menjelaskan semua sejarah masa
lalu sebagai usaha dari umat manusia yang belum maju untuk mencapai semacam
‘masyarakat yang sempurna’, yang mereka yakin bahwa kapitalisme telah
mencapainya atau bisa mencapainya.

Jadi, jika
mempelajari karya dari beberapa ilmuwan atau pemikir besar borjuis di masa lalu
atau bahkan sekarang, kita dapat melihat betapa mereka cenderung untuk
mencampur-adukkan ide-ide materialis dan ide-ide idealis dalam pikiran mereka.
Isaac Newton misalnya, yang telah meneliti hukum-hukum mekanik, gerakan planet,
dan benda-benda planet, tidak percaya bahwa proses-proses ini ditentukan oleh
akal atau pikiran. Namun apa yang dia percaya ialah bahwa tenaga penggerak awal
diberikan kepada semua materi, dan bahwa dorongan awal ini ditentukan oleh
semacam kekuatan supranatural, yaitu oleh Tuhan.

Hal yang
serupa, adalah mungkin bagi banyak ahli biologi saat ini untuk menerima ide
bahwa species tumbuhan dan hewan berevolusi dari satu jenis menjadi jenis
lainnya, dan bahwa manusia sendiri adalah hasil perkembangan dari species
terdahulu. Namun demikian, banyak di antara mereka yang terpaku pada gagasan
bahwa terdapat suatu perbedaan kualitatif antara akal manusia dengan akal
hewan, yaitu bahwa ada ‘jiwa yang abadi’ yang meninggalkan tubuh manusia
setelah kematiannya. Bahkan beberapa di antara ilmuwan yang paling termahsyur
juga mencampuradukkan metode materialis dengan ide-ide idealis seperti ini,
yang – kalau kita bicara secara ilmiah – ini sungguh-sungguh terbelakang, serta
lebih dekat kepada magic dan takhayul daripada kepada ilmu pengetahuan.

Karena itu,
Marxisme mewakili pertentangan yang sistematis dan fundamental dengan idealisme
dalam segala bentuknya, dan perkembangan Marxisme mencerminkan suatu pemahaman
materialis tentang apa yang tengah terjadi dalam realitas (kenyataan).

PETA PEMIKIRAN HEGEL (4)

Monday, June 2nd, 2008

NEGARA

Negara merupakan tema sentral dalam pembahasan tentang
kehidupan dalam masyarakat politik. Sebagai seorang filosof, Hegel kemudian
merumuskan bentuk negara ideal baginya, pandangannya tentang negara tersebut
dapat dilihat pada dua karyanya yaitu The Philosopy of History dan The
Philosopy of Law
. Tentu saja pandangannya tentang negara tidak lepas dari
sistem filsafat yang dibangunnya.

Hegel
menunjukkan bahwa hakekat manusia dimasukkan dan diwujudkan dalam kehidupan
negara-bangsa. Menurutnya, negara-bangsa merupakan totalitas organik (kesatuan
organik) yang mencakup pemerintahan dan institusi lain yang ada dalam negara
termasuk keseluruhan budayanya. Hegel juga menyatakan bahwa totalitas dari
budaya bangsa dan pemerintahannya merupakan individu sejati. “Individu sejarah
dunia adalah negara-bangsa”, maksudnya negara merupakan individu dalam sejarah
dunia.

Negara merupakan
manifestasi dari ide universal. Sedangkan individu (orang per orang) merupakan
penjelmaan dari ide partikular yang tidak utuh, dan merupakan bentuk
kepentingan yang sempit. Negara memperjuangkan kepentingan yang lebih besar,
memperjuangkan/merealisasikan ide besar. keinginan negara merupakan keinginan
umum untuk kebaikan semua orang, karenanya negara harus dipatuhi dan negara
dapat memaksakan keinginannya pada warganya.
Negara adalah
“penjelmaan dari kemerdekaan rasional, yang menyatakan dirinya dalam bentuk
objektif”.

Karena itulah negara yang dibentuk Hegel adalah absolut.
Negara baginya bukan apa yang di gambarkan John Lock atau teoritisi-teoritisi kontrak
sosial
yang dibentuk dari kesepakatan bersama dari rakyatnya, Hegal
berpendapat sebaliknya ,negaralah yang membentuk rakyatnya. Hegel memang
mensakralkan negara sampai ia menganggap bahwa sepak terjang negara di dunia
ini sebagai “derap langkah Tuhan di bumi” The State is devine idea as it exists
on earth. (Ahad Suhelmi: 256-259)

Dalam perspektif ini
individu tidaklah dimungkinkan untuk menjadi oposisi negara sebab ia membawa
kepentingan parsial. Negara adalah sumber budaya, kehidupan institusional dan
moralitas. Hegel menyatakan dalam Reason of History: segala yang ada pada
manusia, dia menyewa pada negara, hanya dalam negara dia mendapatkan jati
dirinya.
Maka tidak seorang pun bisa melangkah di belakang negara,
dia mungkin bisa memisahkan diri dari individu lain namun tidak dari jiwa
manusia.

Lalu dimanakah existensi
individu ketika ia tidak lagi memiliki kekuasaan dan kebebasan? Hegel menjawabnya
dengan membedakan kebebasan formal dan kebebasan substansial.
Berikut ini penjelasanya

1. Kebebasan formal merupakan kebebasan
yang diasumsikan oleh kaum atomis di masa pencerahan, dimana individu
terisolasi, kebebasan ini diraih dari sifat alamiah seperti: kehidupan,
kebebasan dan properti (hak milik), kebebasan ini bersifat abstrak dan negatif.
Bagi Hegel, inilah kebebasan dari penguasa yang menindas.

2. Kebebasan substansial adalah merupakan
kebebasan ideal bagi Hegel, hal ini cita-cita moral masyarakat yang berasal
dari kehidupan spiritual masyarakat tertentu. Kebebasan ini hanya dapat diraih
dari negara, di sinilah cita-cita etika dan jiwa fundamental orang-orang dalam
hukum-hukum dan institusi-institusinya dapat dicapai.

 

Dalam pandangan Hegel, jika
kita membenci budaya kita dan tidak sependapat dengan cita cita dan institusi
masyarakat kita maka kita berada dalam keterasingan. Keterasingan merupakan
terdiri dari banyak komponen yaitu: perasaan menjadi asing diri, terputus dari
perasaan sendiri ataupun identitasnya sendiri; perasaan tidak memiliki norma;
tidak memiliki arti; lemah dan lain lain.Keterasingan yang dipahami Hegel
merupakan kegagalan kehendak individu untuk beradaptasi dengan yang lebih besar
yaitu kemauan masyarakat. Keterasingan merupakan kondisi dimana seseorang tidak
bisa mengidentifikasikan diri dengan moralitas publik dan institusi masyarakat

PETA PEMIKIRAN HEGEL (3)

Monday, June 2nd, 2008

FILSAFAT SEJARAH

 Setelah
Hegel menyatakan bahwa yang sejati adalah rasional dan kemudian menerangkan
tentang dialektika yang membawa ruh kepada titik absolut, maka kita kemudian
akan di bawa pada pemahaman hakekat sejarah. Sejarah bagi Hegel dapat dipahami
sebagai proses dialektika ruh. Filsafat sejarah Hegel merupakan perwujudan atau
pengejewantahan dari ide universal menuju pada absolutisme dengan menjelaskan
semua yang terjadi sebagai proses.

 Bagi
Hegel, sejarah berlaku pada kelompok bukan dalam individu. Searah berkaitan
dengan jiwa manusia dan seluruh budayanya bukan dengan Ilmu dan tekhnologi
seperti yang di jelaskan oleh para pemikir pencerahan. Hegel mengangap sejarah
tidakah bergerak secara lurus terhadap kemajuan, namun ia bergerak secara
dialektis melalui jalan melingkar.

 Dalam
The Philosophy of History Hegel mengatakan bahwa Esensi dari ruh adalah
kebebasan , maka kebebasan adalah tujuan dari sejarah. Sejarah baginya
merupakan gerak kearah rasionalitas dan
kebebasan yang semakin besar. Hegel kemudian merumuskan perkembangan historis ruh, yang terbagi dalam tiga tahap : Pertama,
Timur. Kedua, Yunani dan Romawi dan Ketiga, Jerman. Pada fase
pertama kita akan temui bahwa yang bebas hanyalah satu orang, seperti yang
kita lihat dalam monarki Cina dan Timur Tengah , lalu sejarah bergerak pada
masa Yunani Kuno dan Romawi dimana yang bebas menjadi beberapa orang sebab
masih ada pembedaan antara tuan dan
budak maka bentuk yang sempurna adalah Jerman dimana yang bebas adalah semuanya Pemikiran Hegel mengarahkan kita pada
pemahaman bahwa sejarah merupakan pergerakan penuh tujuan atas cita-cita Tuhan untuk kemanusiaan. Hegel pun memahami
bahwa sejarah memang merupakan meja
pembantaian dimana kesengsaraan, kematian , ketidakadilan dan kejahatan menjadi
bagian dari panggung dunia. Namun Filsafat sejarah merupakan teodisi atau usaha untuk membenarkan
tuhan dan mensucikan tuhan data tuduhan bahwa tuhan membiarkan kejahatan berkuasa di dunia. Dia menunjukkan anggapan yang salah tentang sejarah di sebabkan karena merekan
hanya melihat permukaanya saja, tetapi
mereka tidak melihat aspek Laten serta
potensial dalam sejarah yaitu jiwa
absolut dan esensi jiwa yaitu kebebasan
.

PETA PEMIKIRAN HEGEL (2)

Monday, June 2nd, 2008

DIALEKTIKA

Dialektika merupakan metode yang dipakai Hegel dalam
memahami realitas sebagai perjalanan ide menuju pada kesempurnaan. Menelusuri
meteri baginya adalah kesia-siaan sebab materi hanyalan manifestasi dari
perjalanan ide tersebut. Dengan dialektika, memahami ide sebagai realitas
menjadi dimungkinkan.

Dialektika dapat dipahami sebagai “The Theory of the

Union

of opposites” (teori tentang persatuan hal-hal yang
bertentangan). Terdapat tiga unsur atau konsep dalam memahami dialektika yaitu
pertama, tesis, kedua sebagai lawan dari yang pertama disebut dengan antitesis.
Dari pertarungan dua unsur ini lalu muncul unsur ketiga yang memperdamaikan
keduanya yang disebut dengan sinthesis. Dengan demikian, dialektika
dapat juga disebutsebagai proses berfikir secara totalitas yaitu setiap unsur
saling bernegasi (mengingkari dan diingkari), saling berkontradiksi (melawan
dan dilawan), serta saling bermediasi (memperantarai dan diperantarai).

Untuk memahami proses
triadic itu (thesis, Antitesis, dan sithesis), Hegel menggunakan kata dalam
bahsa Jerman yaitu aufheben Kata ini memiliki makna “menyangkal”, “menyimpan”
dan “mengangkat”. Jadi dialektika bagi Hegel bukanlah penyelesaian kontradiksi
dengan meniadakan salah satunya tetapi lebihdari itu. Proposi atau tesis dan
lawannya antitesis memiliki kebenaran masing-masing yang kemudian diangkat
menjadi kebenaran yang lebih tinggi. Tj. Lavine menerangkan proses ini sebagai
berikut:

 

1. menunda klonflik antara tesis dan
antitesis.

2. Menyimpan elemen kebenaran dari tesis
dan antitesis.

3. Memgungguli perlawanan dan meninggikan
konflik hingga mencapai kebenaran yang lebih tinggi.

 

Hagel memberikan contoh
sebagai berikut “yang mutlak adalah yang berada murni (pure being)” yang tidak
memiliki kualitas apapun. Namun yang berada murni tanpa kualitas apapun adalah
“yang tiada (nothing)” ini merupakan regasi dari proposi atau tesis, oleh sebab
itu kita terarah pada antitesis “yang mutlak adalah yang tiada”. Penyatuan
antara tesis dan antitsis tersebut menjadi sinthesis yaitu apa yang disebut
menjadi (becoming) maka “yang mutlak adalah yang menjadi”, sinthesis inilah
kebenaran yang lebih tinggi.

Dialektika Hegel merupakan
alternatif tradisional yang mengasumsikan bahwa proposi haruslah terdiri dari
subjek dan predikat. Logika seperti ini bagi Hegel tidaklah memadai. Berikut
contoh yang bisa sedikit menerangkan tentang hal tersebut, dalam logika
tradisional terdapat proposi sebagai berikut Heru adalah seorang paman”, kata
paman disini merupakan predikat yang dinyatakan begitu saja benar (benar dengan
sendirinya), Heru tidak perlu mengetahui keberadaannya sebagai paman, maka
dalam hal ini logika tradisional mengandung cacat. Hegel menggantinya dengan
dialektika untuk menuju pada kebenaran mutlak, paman bagi Hegel tidaklah benar
dengan sendirinya, sebab eksistensinya sebagai paman juga membutuhkan
eksistensi orang lain sebagai keponakan. Dari perseteruan antara paman sebagai
tesis dan keponakan sebagai antitsis maka tidaklah memungkinkan kebenaran
parsial atau individual, kesimpulannya adalah kebenaran terdiri dari paman dan
keponakan. Jika dialektika ini diteruskan akan mencap[ai kebenaran absolut yang
mencakup keseluruhan.

Tidak ada kebenaran absolut
tanpa melalui keseluruhan dialektika. Setiap tahap yang belakangan mengandung
semua tahap terdahulu. Sebagaimana larutan, tak satupun darinya yang secara
keseluruhan digantikan, tetapi diberi tempat sebagai suatu unsur pokok di dalam
keseluruhan.

PETA PEMIKIRAN HEGEL (1)

Monday, June 2nd, 2008

METAFISIKA DAN RUH ABSOLUT

Filsafat Hegel sering disebut sebagai
puncak idealisme Jerman. Filsafatnya banyak diinspirasikan oleh Imanuel Kant
dengan filsafat ilmunya ( filsafat dualisme), Kant melakukan pengkajian
terhadap kebuntuan perseteruan antara Empirisme dan Rasionalisme,
keduanya bagi Kant terlalu ekstrem dalam mengklaim sumber pengetahuan.
“Revolusi Kantian” kemudian berhasil menemukan jalan keluarnya.

 Hegel
yang pada awalnya sangat terpengaruh oleh filsafat Kant tersebut kemudian
menemukan jalan keluarnya melalui kontemplasi yang terus menerus. Ketertarikan
Hegel sejak awal pada metafisika, meyakinkannya bahwa ada ketidak jelasan
bagian dunia, bagi Bertrand Russell pemikirannya kemudian merupakan
Intelektualisasi dari wawasan metafisika

 Pada
dasarnya filsafat Hegel mematahkan anggapan kaum empiris seperti John Lock,
Barkeley dan David Hame. Mereka ( kaum empiris ) mengambil sikap tegas pada
metafisika, bagi Lock metafisika tidak mampu menjelaskan basis fundamental
filsafat atau Epistimologi ( bagaimana realitas itu dapat diketahui )
dan tidak dapat mencapai realitas total, pendapat ini diteruskan kembali oleh
David Hume bahwa metafisika tidaklah berharga sebagai ilmu dan bahkan tidak
mempunyai arti., baginya metafisika hanya merupakan ilusi yang ada diluar batas
pengertian manusia.

 Dengan
metafisika kemudian Hegel mencoba membangun suatu sistem pemikiran yang
mencakup segalanya baik Ilmu Pengetahuan, Budaya, Agama, Konsep Kenegaraan,
Etika, Sastra, dll. Hegel meletakkan ide atau ruh atau jiwa sebagai realitas
utama, dengan ini ia akan menyibak kebenaran absolut dengan menembus
batasan-batasan individual atau parsial. Kemandirian benda-benda yang terbatas
bagi Hegel dipandang sebagai ilusi, tidak ada yang benar nyata kecuali keseluruhan
(The Whole).

 Hegel
memandang Realitas bukanlah suatu yang sederhana, melainkan suatu sistem yang
rumit. Ia membangun filsafat melalui metafora pertumbuhan biologis dan
perubahan perkembangan atau bisa disebut dengan organisme. Pengaruh konsep organisme
pada diri Hegel, membuatnya memandang bahwa organisme merupakan model untuk
memahami kepribadian manusia, masyarakat, institusi, filsafat dan sejarah.
Dalam hal ini organisme dipandang sebagai suatu hirarki, kesatuan yang saling
membutuhkan dan masing-masing bagian memiliki peran dalam mempertahankan suatu
keseluruhan.

 Segala
sesuatu yang nyata adalah rasional dan segala sesuatu yang rasional adalah
nyata (all that is real is rational and all that is rational is real) adalah
merupakan dalil yang menegaskan bahwa luasnya ide sama dengannya luasnya
realitas. Dalil ini berbeda dengan yang dinyatakan oleh keum empiris tentang
realitas, “yang nyata” bagi kaum empiris secara tegas ditolak oleh Hegel, sebab
baginya itu tidaklah rasional, hal tersebut terlihat rasional karena merupakan
bagian dari aspek keseluruhan.

 Hegel
meneruskan bahwa keseluruhan itu bersifat mutlak dan yang mutlak itu bersifat
spiritual yang lambat laun menjadi sadar akan dirinya sendiri. Jadi realitas
pada kesendiriannya bukanlah hal yang benar-benar nyata, tetapi yang nyata pada
dirinya adalah partisipasinya pada keseluruhan.

 Dalam
bukunya Phenomenologi of Mind (1807), Hegel menggambarkan tentang “yang
mutlak” sebagai bentuk yang paling sempurna dari ide yang selanjutnya menjadi ide
absolut
. Ide absolut menurut Bertrand Russell adalah pemikiran murni,
artinya adalah bahwa ide absolut merupakan kesempurnaan fikiran atau jiwa yang
hanya dapat memikirkan dirinya sendiri.
Pikirannya dipantulkan kedalam dirinya sendiri melalui kesadaran diri.

Ekonomi AS

Monday, June 2nd, 2008

Krisis subprime mortgage yang bermula pada akhir Juli 2007 ternyata
eksesnya masih berlanjut hingga kini. Beberapa bank investasi skala global (global investment banks) mengalami
kerugian besar, bahkan dipaksa memangkas ribuan karyawannya. Hingga kini, pasar
keuangan global terus bergejolak kendati telah dilakukan langkah-langkah
represif oleh bank-bank sentral dunia.
Pertama
, dimotori Bank Sentral AS (The Federal Reserve Bank/The Fed),
dilakukan penurunan suku bunga. Bahkan khusus untuk The Fed,telah ditu-runkan
75 basis poin menjadi 3,5%. Kedua,
bank-bank sentral menggelontori pasar keuangan dengan likuiditas yang besar,
mencapai USD500 miliar, untuk menormalkan kepercayaan pelaku pasar. Ketiga,Pemerintah dan Kongres AS
menyepakati dikeluarkannya paket stimulus ekonomi senilai USD145 miliar atau
setara dengan 1% dari produk domestik bruto (PDB).

Langkah-langkah dramatis itu dilakukan untuk segera memulihkan kepercayaan
pelaku pasar. Paling tidak,untuk mengerem kepanikan di pasar saham. Dengan dipangkasnya
suku bunga, persoalan utama perekonomian AS bukan lagi pada suku bunga tinggi,
melainkan anjloknya kepercayaan pasar. Maklum, ketika suku bunga masih di atas
4%,sebagai refleksi kebijakan uang ketat,terjadi kredit macet. Ketika hal ini
menimpa kredit perumahan kelas dua (subprime
mortgage
), terjadilah respons kepanikan di pasar surat berharga dengan underlying kredit tersebut. Padahal,
sejatinya subprime mortgage ini hanya
15% dari seluruh kredit perumahan (mortgage
loans
) di AS, yang diperkirakan mencapai USD10 triliun. Masalah ini menjadi
kepanikan besar karena subprime mortgage
dan derivasinya memang sedang menjadi instrumen yang tumbuh pesat.

Diluarsoal krisis subprime mortgage,
sebenarnya perekonomian AS sedang berada dalam tren positif. Melemahnya dolar
AS telah membantu kinerja ekspor sehingga defisit perdagangannya
”hanya”USD352,7 miliar pada semester I 2007.Memang masih ada masalah dengan
belanja pemerintah yang membengkak, tetapi situasi fiskal ini dinilai masih di
jalur yang benar (on the track).

Pilihan menurunkan suku bunga mencerminkan kebijakan Pemerintah AS yang
cenderung memilih ”mengorbankan” inflasi ketimbang membiarkan eskalasi
kepanikan subprime mortgageberlanjut dan berkembang liar, yang bisa
menjerumuskan seluruh dunia ke jurang resesi ekonomi yang dalam (deep
recession).

Inflasi di AS tahun ini diperkirakan akan mencapai 3,5% dengan pertumbuhan
ekonomi berkisar 0,5–1,0%. Kendati demikian,komplikasi masalah subprime
mortgage tidak berarti sudah selesai secara tuntas. Buktinya, hingga kini
imbasnya masih terasa karena sebagian orang percaya, perekonomian dunia masih
dibayangi kemungkinan krisis ekonomi yang terutama disebabkan krisis energi.