Cinta Kata Lain Untuk Tidur Denganmu
Saturday, June 14th, 2008Tubuh
sepasang mahluk tuhan yang berlainan jenis kelamin saling mengunci
dengan posisi terbalik, tubuh si perempuan tak henti-henti
menggelinjang, sedang si pria tetap tenang, hanya lidahnya yang
bergerak menjilati pangkal selangkangan si perempuan. Sudah lebih dari
lima belas menit mereka begitu dalam ruangan yang udaranya disejukan
oleh mesin yang katanya mampu membunuh virus serta bakteri yang
bertebangan di udara. Televisi 29 inci yang terletak di atas sebuah
meja itu menyala tanpa ada yang menonton. Cahaya itu satu-satunya
sumber cahaya dalam ruangan tersebut. Itulah ungkapan perasaan senang
setelah ngobrol selama kurang dari sejam di sebuah kafe, semuanya
tampak akan berakhir disini dan rasanya sepertiga persoalan dunia ini
selesai sudah.
29 April 1992, 08.30 malam.
Lampu-lampu
yang menyinari kafe itu seperti kunang-kunang yang menari menyambut
malam.tidak begitu ramai, dipojok dekat pintu masuk duduk dua orang
yang berbicara tentang bagaimana menjatuhkan Soeharto dari kekuasaan,
di dekat jendela yang mengarah ke jalan raya sepsang muda-mudi tertawa cekikikan, mearsa geli entah karena apa.
Dua
buah meja tampak kosong, pelayannya pun tampak ngobrol dengan santai di
balik meja bartender. Ruangan kafe ini tidak begitu besar, namun mampu
menghadirkan suasan yang luas, entah karena pilihan cat temboknya yang
bewarna putih, dihiasi oleh lukisan serta potret abstrak, atau hanya
kesilapan mata, karena memang tidak begitu banyak orang berseliweran. Disinilah banyak kisah menarik hadir untuk diketengahkan.
Duduk
di salah satu meja di sudut bagian belakang, mukanya tak kelihatan,
hanya leher sampai ke bagian pinggang yang di terpa cahaya. Tangannya
memegagang gelas,lalu memutar-mutarnya, aroma kopi yang begitu
mengental akan tercium bagi siapa saja yang berdiri dekat sana.
Sementara tangan satunya lagi memegang rokok kretek merk terkenal. Dia
memakai kemeja kotak-kotak dipadu dengan celana jeans. Kira-kira sudah setengah jam dia disana. Sepertinya dia menunggu seseorang.
Pas
hembusan asap rokok hasil hisapan yang ketiga, seorang perempuan
berjilbab lebar bewarna ungu muda menhampiri meja itu, dengan
mengucapkan salam khas agama islam dia menyapa laki-laki tersebut.
“sudah lama menunggu mas?” katanya sambil tersenyum. Maaf saya
terlambat, tadi harus ke kampus dulu ambil tugas”, lanjutnya. Laki-laki
tersebut hanya menganggukan kepala dan tersenyum agak sedikit masam.
“oya mas ada apa? Kok tiba-tiba ngajak ketemuan?”.
“begini
rin, aku sudha lama pengen ketemu ama kamu dan mau ngobrolin sesuatu
yang agak serius sama kamu, aku ingin menayakan sesuatu, apa kata lain
dari cinta menurutmu?”.
Suasana agak hening sebentar….
“kok tiba-tiba menayakan hal itu mas”
“nggak aku cuman pingin dalam sudut pandang mu”
‘hmmmm……cinta menurutku bentuk ungkapan perasaan seeorang terhadap orang lain”
“hanya itu?…”
“ada
cinta kepada orang tua, cinta kepada adik, kakak, cinta kepada manusia
lainnya….dan menurut agama Islam konsep pacaran juga tidak dikenal,
yang ada hanya ‘ta’aruf’ atau proses saling mengnal satu lama lain…..menurut pandanganku sih begitu mas…”
Kembali
rokok yang hanya tinggal seujung kuku dia hisap dalam, sebelum
dicelupkan ke dalam asbak yang terbaut dari kaca..hembusan asap
terakhir menunjukan rasa sedikit kecewa atas jawaban tadi. “ya sudah,
kamu habiskan minummu dan langsung pulang ya… sudah malam, aku juga
ada janji ketemu sama orang”
“terus kapan kita bisa ketemu lagi mas?”
“ntar aku hubungi kamu lagi…”
Rini
pun beranjak pergi setelah ia betulkan jilbabnya yang agak mirik
sehingga memperlihatkan auratnya. Sepeninggal Rini, laki-laki tersebut
kembali mengambil rokok dan menyalakannya…matanya kembali melirik ke
arah jam. Baru jam setengah sepuluh pikirnya. Suasana kafe tersebut
tenyata sudah agak berubah, tal ada lagi tertawa cekikikan sepasang
remaja tadi, yang ada hanyalah tertawa lepas para pekerja yang ingin
menghabiskan malam sabtu ini setelah lima hari kerja penuh berikut
lembur serta bonus caci maki bosnya. Wajar kemudian setiap pekerja
butuh tertawa lepas, bukan senyuman, cengiran basa-basi menyenagkan orang.
Kafe ini agak berbeda dengan kafe kebanyakan, jikalau kafe lain menghadirkan live musik atau putaran cakram padat pada player-nya,
kafe ini malah tidak menghadirkan musik sedikitpun, tak ada alat-musik,
tak ada panggung, tak ada apa-apa, tak jauh berbeda dengan warung kopi
di pinggir jalan sebenarnya. Namun karena itulah ia menynangi kafe ini,
dia bisa menikmati suasana lain. Hanya itu alasan ia sering menunjungi
kafe ini.
Kembali
terngiang dikepalanya, petemuan tadi siang di rumah Mawar, dirumah yang
sederhana itu ia duduk termenug lama sewaktu Mawa tengah menyiapkan
secangkir kopi di belakang. Ini merupakan kali ketiga dia menunjungi
rumah ini, setelah yang terakhir berakhir dengan kericuhan, waktu itu
ia disangka selingkuh dengan Mawar, padahal ia tahu Mawar adalah
tipikal istri yang setia, tak akan berani ia menghianati sang suami
walaupun ia tidak mencintanya. Ia waktu itu masih yakin Mawar adalh
calon istrinya, jodohnya yang diciptakan tuhan dari tulang rusaknya.
Mawar adalah segalanya, mungkin sampai sekarang. Tadi siang Mawar
kembali menolak cintanya, Mawar menyatakan statusnya sekaang sebagai
penghalang perpaduan cinta mereka.
Ketika
beranjak dari rumah Mawar, kembali ia berpikir, apa sih hebatnya
Mawar?, secara fisik dia anggap biasa saja, payudara tak besar-besar
amat, pantat juga demikian, kulit tak begitu terawat. Secara sifat,
Mawar juga tak jauh bebeda dengan perempuan lainnya, suka dimanja, suka
belanja, suka berpikir aneh-aneh, seperti seorang sutradara yang
mempunyai skenario dikepalanya, dan menuntut setiap peran harus
dimainkan secara maksimal kalau tidak siap-siap ditendang.
Aku
mungkin penasaran saja, hati ini mungkin penasaran saja untuk
mengetahui bagaimana kalau aku memang pacaran sama Mawar, bagiamana
rasanya, enakkah?, bahagiakah?, senangkah?. Aku juga penasaran
bagaimana rasanya menggandeng Mawar ke setiap sudut kota, bagaimana
rasanya memamerkannya ke seluruh penghuni kota, serta bagaimana asanya
menyentuh bibi tipisnya dengan bibirku. Mungkin cuman itu alasan aku
tetap memujanya.
Gemincing
pintu kafe membuyarkan pikirannya, sekilas ia melihat seorang perempuan
muda masuk dan kemudian menghampiri mejanya, memakai baju kaus
bergambar abstrak khas distro, becelanakan jins model pinsil,
sepatu kets, tas selempang yang senada dengan kausnya, tak lupa
sederetan gelang melingkar di lengan kirinya. Tanpa basa-basi perempuan
yang kalau dihitung-hintung berusia belum genap duapuluh tahun itu
mengambil sebatang rokok dan langsung menyalakannya, baru setelah
hisapan ketiga dia memulai pembicaraan.
“gimana brur…dah lama..?, sori gue agak telat..biasa nongkong dulu tadi di tempat temen…”
“hmmm.. aku juga baru nyampe…baru habis dua batang rokok…dah lama juga ya kita tidak ketemu…?. apa kesibukanmu sekarang?
“Yup..begitulah…aku masih coba melatih tehnik gitar…tapi tampaknya tidak begitu menunjukan peningkatan, gue masih lemah di arpegio dan, pinch harmonic. Baru dua bulan ini gue menguasai tehnik tipping dan legato”.
“Pacarmu gimana? Lanjutku
“ ah sudahlah…dia makin nggak asik…masak dia nuntut gue ngasih tau ada dimana, sama siap, pulanhg jam brapa dan seabrek tuntutan lainnya, yang gue anggap terlalu kekanak-kanakan”
“btw ada apa kok tiba-tiba ngajak ketemuan..gue mo pulang nih..”
“Kok buru-buru amat sih…santai aja disini dulu..kita ngobrol…”
“bukan begitu… dah seminggu blom pulang kerumah…lo nggak takut nanti di laporin ke polisi ama babe gue dengan tuduhan melrikan anak dibawa umur, pencabulan serta perkosaan…?’
“hahahhahhhahha”
“jangan ketawa, serius nih..cepetan ngomong…”
“oke…oke…gini poy…kamu tahu kan kerjaanku…tiba-tiba otakku ini berontak pengin tahu apa arti kata cinta”
“hahaha dasar laki-laki…..aneh….gue
pikir ada berita penting apa sehingga kita harus ketemu….kok nggak
lewat telepon aja sih…kalo cuman nanya itu..sekarang teknologi dah
canggih, mamfaatkan dong..”
“justru itu…secanggih apapun teknologi..dia tak bisa menggantikan mood of communication,
kita nggak bakalan tahu ekspresi lawan bicara, kita tak tahu gestur
tubuh lawan bicara, kita juga nggak tahu mimik wajah lawan bicara, dan
akhinya kita bisa menyalahkan arti dari poin pembicaraan, so…, bertemu dengan betatap muka adalah soal penting dalam hubungan antar manusia..”
“oke…lo jangan mulai ceramah deh…untuk jawab pertanyaan lo tadi gue
coba jawab……hmmmm….cinta tidak ada…cinta itu hanyalah omong
kosong ratapan anak manusia, cinta adalah milik orang-orang yang
mempunyai jiwa yang labil, yang butuh pegangan, cinta tak lain dari
pembicaraan bodoh sambil membayangkan masa depan, hanya seorang pemimpi
yang tetap membicaakan cinta, dan yang terakhir cinta hanyalah kata
lain untuk mengatakan aku ingin tidur denganmu”
Lagi-lagi kehinengan menyelinap di tengah pembicaraan.
“kok diam? Bagaimana menurutmu? Lanjut popoy.
“nggak aku bepikir…”
“bepikir apa”
“berpikir…jangan-jangan saat ini aku mencintaimu…”