MDH (1)

Matrealisme

JIKA kita
membahas metode Marxisme, maka kita sedang bergelut dengan ide-ide yang
memberikan basis bagi aktivitas-aktivitas kita dalam gerakan buruh,
argumen-argumen yang kita kemukakan ketika kita mengikuti berbagai diskusi, dan
artikel-artikel yang kita tulis.

Telah secara
umum diterima bahwa Marxisme mengambil bentuknya dari tiga akar pokok. Salah
satu dari akar itu ialah analisis Marx tentang politik Prancis, khususnya
revolusi borjuis di Prancis tahun 1790an, dan perjuangan-perjuangan kelas
berikutnya selama awal abad ke-19. Akar lain dari Marxisme adalah apa yang
disebut ‘ekonomi Inggris’, yaitu analisis Marx tentang sistem kapitalis seperti
yang berkembang di Inggris. Akar ketiga dari Marxisme, yang menurut sejarahnya
merupakan titik permulaan Marxisme, adalah ‘filsafat Jerman’, dan aspek
filsafat inilah yang ingin saya bahas di sini.

Untuk memulainya, kita katakan bahwa basis Marxisme adalah materialisme. Maksudnya,
Marxisme dimulai dengan ide bahwa materi adalah esensi dari semua realitas, dan
bahwa materi membentuk akal, dan bukan sebaliknya.

Dengan kata lain, pikiran dan segala sesuatu yang dikatakan berasal dari
pikiran – misalnya ide-ide tentang seni, hukum, politik, moralitas, dan
sebagainya – hal-hal ini pada kenyataannya berasal dari dunia material. ‘Akal’,
yaitu pikiran dan proses berpikir, adalah sebuah produk dari otak; dan otak itu
sendiri, yang berarti juga ide-ide, muncul pada suatu tahap tertentu dari
perkembangan materi hidup. Jadi, akal adalah produk dari dunia material.

Oleh karena itu, untuk memahami sifat sesungguhnya dari kesadaran dan
masyarakat manusia, sebagaimana diungkapkan oleh Marx sendiri, persoalannya
adalah "bukan berangkat dari apa yang dikatakan, dikhayalkan, atau
dibayangkan oleh manusia… agar sampai pada yang namanya manusia dengan bentuk
seperti sekarang; melainkan berangkat dari manusia riil (nyata) dan aktif, dan
berdasarkan basis proses-kehidupan riil manusia yang menunjukkan perkembangan
refleks-refleks dan gaungan-gaungan ideologis dari proses kehidupan ini. Bayangan-bayangan
yang terbentuk dalam otak manusia adalah juga gambaran-gambaran dari
proses-kehidupan material, yang secara empiris dapat dibuktikan kebenarannya
dan terikat pada premis-premis(dalil) material. Jadi, moralitas, agama,
metafisika, dan segala macam ideologi serta bentuk-bentuk kesadaran yang
berhubungan (serupa) dengan itu, tidaklah independent (bebas). Moralitas,
agama, metafisika, dan segala macam bentuk ideologi itu tidak memiliki sejarah,
tidak memiliki perkembangan; tetapi manusia, yang mengembangkan produksi
material dan hubungan material mereka, mengubah – seiring dengan eksistensi
riil mereka – pemikiran dan produk-produk pemikiran mereka. Kehidupan tidak
ditentukan oleh kesadaran, tetapi kesadaran ditentukan oleh kehidupan. Dalam
metode pendekatan pertama (non materialis), titik mulanya adalah kesadaran yang
dianggap sebagai individu hidup; dalam metode pendekatan kedua (materialis),
yang menyesuaikan diri (terhadap keadaanmaterial) adalah individu-individu
hidup riil itu sendiri, sedangkan kesadaran dianggap hanya sebagai kesadaran
mereka."
(Ideologi Jerman, Bab Satu).

Karena itu,
seorang materialis selalu berusaha mencari penjelasan bukan hanya tentang
ide-ide, melainkan juga tentang gejala-gejala material itu sendiri, dalam hal
sebab-sebab material, dan bukan campur tangan supranatural oleh Tuhan, Dewa,
atau yang semacam itu. Dan ini adalah aspek yang sangat penting dari Marxisme,
yang secara tegas menolak metode-metode pemikiran dan logika yang telah mapan
dalam masyarakat kapitalis.

Perkembangan
pemikiran ilmiah di negeri-negeri Eropa pada abad ke-17 dan 18 menunjukkan
ciri-ciri yang sangat kontradiktif (bertentangan), yang masih tetap khas
(serupa) dengan pendekatan para teoritisi borjuis masa kini. Di satu sisi,
terdapat perkembangan ke arah metode materialis.

Para

ilmuwan mencari sebab-sebab. Mereka tidak semata-mata menerima gejala-gejala
alam sebagai keajaiban Tuhan, melainkan mencari penjelasan atas gejala-gejala
itu. Namun seiring dengan itu, para ilmuwan ini tidak memiliki pemahaman
materialis yang konsisten dan menyeluruh; dan sering kali, di balik
penjelasan-penjelasan tentang gejala alam, ujung-ujungnya mereka masih mencari
kaitannya dengan campur tangan Tuhan dalam proses itu.

Pendekatan seperti
itu berarti menerima, atau setidaknya membuka kemungkinan, bahwa dunia material
yang kita diami ini dibentuk oleh keuatan dari luar dunia, dan bahwa kesadaran
atau ide-ide muncul lebih dahulu, yaitu dalam hal bahwa kesadaran atau ide-ide
bisa eksis (ada) secara independent (tidak terikat) pada dunia riil. Pendekatan
ini, yang merupakan lawan filosofis dari materialisme, kita sebut ‘idealisme’.

Menurut
pendekatan idealis ini, perkembangan umat manusia dan masyarakat – baik seni,
ilmu pengetahuan, dll. – ditentukan bukan oleh proses material, melainkan oleh
perkembangan ide-ide, oleh penyempurnaan atau turun-temurunnya pemikiran
manusia. Dan bukanlah kebetulan belaka bahwa pendekatan umum ini, dinyatakan
atau tidak, ternyata menyelubungi semua filsafat kapitalisme.

Para

filsuf dan sejarawan borjuis secara umum menerima sistem yang ada sekarang
secara apa adanya. Mereka menerima bahwa kapitalisme adalah suatu sistem yang
telah lengkap dan tuntas, yang tidak bisa digantikandengan sebuah sistem yang
baru dan lebih maju. Dan mereka berusaha untuk menjelaskan semua sejarah masa
lalu sebagai usaha dari umat manusia yang belum maju untuk mencapai semacam
‘masyarakat yang sempurna’, yang mereka yakin bahwa kapitalisme telah
mencapainya atau bisa mencapainya.

Jadi, jika
mempelajari karya dari beberapa ilmuwan atau pemikir besar borjuis di masa lalu
atau bahkan sekarang, kita dapat melihat betapa mereka cenderung untuk
mencampur-adukkan ide-ide materialis dan ide-ide idealis dalam pikiran mereka.
Isaac Newton misalnya, yang telah meneliti hukum-hukum mekanik, gerakan planet,
dan benda-benda planet, tidak percaya bahwa proses-proses ini ditentukan oleh
akal atau pikiran. Namun apa yang dia percaya ialah bahwa tenaga penggerak awal
diberikan kepada semua materi, dan bahwa dorongan awal ini ditentukan oleh
semacam kekuatan supranatural, yaitu oleh Tuhan.

Hal yang
serupa, adalah mungkin bagi banyak ahli biologi saat ini untuk menerima ide
bahwa species tumbuhan dan hewan berevolusi dari satu jenis menjadi jenis
lainnya, dan bahwa manusia sendiri adalah hasil perkembangan dari species
terdahulu. Namun demikian, banyak di antara mereka yang terpaku pada gagasan
bahwa terdapat suatu perbedaan kualitatif antara akal manusia dengan akal
hewan, yaitu bahwa ada ‘jiwa yang abadi’ yang meninggalkan tubuh manusia
setelah kematiannya. Bahkan beberapa di antara ilmuwan yang paling termahsyur
juga mencampuradukkan metode materialis dengan ide-ide idealis seperti ini,
yang – kalau kita bicara secara ilmiah – ini sungguh-sungguh terbelakang, serta
lebih dekat kepada magic dan takhayul daripada kepada ilmu pengetahuan.

Karena itu,
Marxisme mewakili pertentangan yang sistematis dan fundamental dengan idealisme
dalam segala bentuknya, dan perkembangan Marxisme mencerminkan suatu pemahaman
materialis tentang apa yang tengah terjadi dalam realitas (kenyataan).

Leave a Reply