MDH (2)
DIALEKTIKA
Dialektika
secara sederhana adalah logika gerak, atau logika pemahaman umum dari para
aktivis dalam gerakan. Kita
semua tahu bahwa benda-benda tidaklah diam; dan benda-benda itu berubah. Akan
tetapi, ada suatu bentuk logika lain yang bertentangan dengan dialektika, yang
kita sebut ‘logika formal’, yang sekali lagi juga melekat dalam masyarakat
kapitalis. Barangkali perlu untuk mulai menjelaskan secara singkat apa yang
dimaksud dengan metode ini.
Logika formal
didasarkan pada apa yang dikenal sebagai ‘hukum identitas’, yang menyatakan
bahwa ‘A’ sama dengan ‘A’ – yaitu bahwa benda-benda adalah seperti itu apa
adanya, dan bahwa benda itu berposisi pada hubungan yang tertentu (pasti) satu
sama lain. Ada hukum-hukum turunan lain yang didasarkan pada hukum identitas;
yaitu misalnya, jika ‘A’ sama dengan ‘A’, maka ‘A’ tidak mungkin sama dengan
‘B’ atau ‘C’.
Secara sekilas,
metode pemikiran ini nampak seperti pemahaman umum; dan pada kenyataannya,
logika formal telah menjadi alat yang sangat penting, sarana yang sangat
penting dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan revolusi industri, yang
membentuk masyarakat sekarang ini. Perkembangan matematika dan aritmatika dasar, misalnya, adalah didasarkan
pada logika formal. Anda tidak bisa mengajarkan tabel perkalian atau
penjumlahan kepada seorang anak tanpa menggunakan logika formal. Satu ditambah
satu sama dengan dua, bukan tiga. Hal yang sama, metode logika formal juga
merupakan basis bagi perkembangan ilmu mekanika, kimia, biologi, dll.
Sebagai contoh, pada abad ke-18 ahli biologi Skandinavia, Linnaeus,
mengembangkan sebuah sistem klasifikasi untuk semua tumbuhan dan hewan yang
dikenal. Linnaeus membagi semua benda hidup ke dalam kelas-kelas, ordO-ordo,
dan keluarga; misalnya dalam ordo primata, keluarga hominid, genus homo, dan
mewakili species homo sapiens.
Sistem klasifikasi merupakan sebuah langkah maju besar dalam biologi. Untuk
pertama kalinya, sistem ini memungkinkan dilakukannya studi mengenai tumbuhan
dan hewan yang betul-betul sistematis, untuk membandingkan dan membedakan
species hewan dan tumbuhan. Tetapi sistem ini didasarkan pada logika formal.
Sistem ini didasarkan pada pernyataan bahwa homo sapiens sama dengan homo
sapiens; bahwa musca domestica (lalat) sama dengan musca domestica; bahwa
cacing tanah sama dengan cacing tanah; dst. Dengan kata lain, sistem
klasifikasi ini adalah sistem yang kaku dan pasti. Menurut sistem ini, tidak
mungkin suatu species sama dengan species lain. Atau, jika bisa sama, berarti
sistem klasifikasi ini akan gugur.
Hal yang sama diterapkan dalam bidang kimia, dimana teori atom Dalton
merupakan langkah maju yang sangat besar. Teori Dalton didasarkan pada ide
bahwa materi tersusun atas atom-atom, dan bahwa masing-masing tipe atom sama
sekali khusus dan khas untuk tipe itu sendiri – bahwa bentuk dan berat suatu
atom adalah khusus untuk unsur tertentu itu, dan tidak sama dengan yang lain.
Setelah Dalton, juga ada sebuah sistem klasifikasi unsur-unsur yang hampir
sama kaku-nya dengan sistem Dalton, yang kembali didasarkan pada logika formal
yang kaku, yang mengatakan bahwa sebuah atom hidrogen adalah sebuah atom
hidrogen; sebuah atom karbon adalah sebuah atom karbon; dsb. Dan jika sebuah
atom bisa menjadi atom lainnya, maka keseluruhan sistem klasifikasi ini, yang
telah membentuk basis bagi ilmu kimia modern, akan gugur.
Kini penting bagi kita untuk melihat bahwa terdapat
keterbatasan-keterbatasan dalam metode logika formal. Logika formal adalah
metode sehari-hari yang sangat bermanfaat, dan memungkinkan kita untuk
mempunyai perhitungan-perhitungan dalam mengidentifikasi benda-benda. Misalnya,
sistem klasifikasi Linnaean masih berguna bagi ahli-ahli biologi; tetapi,
terutama sejak munculnya karya Charles Darwin, kita juga jadi bisa melihat
kelemahan-kelemahan dalam sistem klasifikasi itu. Sebagai contoh, Darwin
menunjukkan bahwa dalam sistem Linnaean, tipe-tipe tumbuhan diberi nama-nama
tersendiri sebagai species khusus, namun sebenarnya tipe-tipe tumbuhan itu
sangat mirip satu sama lain.
Jadi, bahkan di masa Darwin, sudah mungkin untuk melihat sistem klasifikasi
Linnaean, dan mengatakan, ‘Oh, ternyata ada yang salah’. Dan tentu saja, karya
Darwin sendiri memberikan basis yang sistematis untuk teori evolusi, yang untuk
pertama kalinya mengatakan adalah mungkin bagi satu species untuk berubah
(bertransformasi) menjadi species lainnya. Dan ini menunjukkan adanya lobang
besar dalam sistem Linnaean. Sebelum Darwin, orang menganggap bahwa jumlah
species di planet ini tepat sama dengan jumlah species yang diciptakan oleh
Tuhan dalam masa enam hari proses penciptaan – kecuali, tentu saja,
species-species yang musnah akibat Banjir Besar – dan bahwa species-species itu
tetap tidak berubah selama berjuta-juta tahun. Namun Darwin menghasilkan ide
perubahan species, sehingga tidak bisa dihindari lagi, metode klasifikasi juga
harus diubah.
Apa yang berlaku di bidang biologi juga berlaku di bidang kimia. Di akhir
abad ke-19, para pakar kimia menjadi sadar bahwa adalah mungkin bagi satu unsur
atom untuk berubah menjadi unsur lainnya. Dengan kata lain, atom tidaklah
mutlak bersifat khusus dan tertentu saja pada unsurnya sendiri. Kini kita
mengetahui bahwa banyak atom, banyak unsur kimia yang tidak stabil. Sebagai
contoh, uranium dan atom-atom radioaktif lainnya akan pecah dalam proses
perjalanan waktu, dan menghasilkan atom-atom yang sama sekali berbeda, dan
dengan kandungan serta berat kimia yang berbeda pula.
Jadi, kita bisa melihat bahwa metode logika formal mulai gugur dengan
adanya perkembangan ilmu pengetahuan itu sendiri. Akan tetapi, metode
dialektika-lah yang menyebabkan bisa ditariknya kesimpulan-kesimpulan dari
penemuan-penemuan faktual ini, dan menunjukkan bahwa tidak ada kategori yang
mutlak atau pasti, baik di alam ataupun di masyarakat. Sementara seorang yang
mengatakan logika formal mengatakan ‘A’ sama dengan ‘A’, maka seorang yang
dialektis akan mengatakan bahwa ‘A’ belum tentu sama dengan ‘A’. Atau ambillah
contoh praktis yang digunakan Trotsky dalam tulisan-tulisannya tentang hal ini:
satu ons gula pasir tidak akan tepat sama dengan satu ons gula pasir lainnya. Adalah
hal yang baik jika Anda menggunakan patokan takaran seperti itu untuk membeli
gula pasir di toko, tetapi jika Anda lihat secara teliti, akan kelihatan bahwa
takaran itu tidak tepat sama.
Jadi, kita perlu memiliki suatu bentuk pemahaman, suatu bentuk logika, yang
menjelaskan kenyataan bahwa benda-benda, kehidupan, dan masyarakat, berada
dalam keadaan pergerakan dan perubahan yang konstan. Dan
bentuk logika itu, tentu saja adalah: dialektika.
Akan tetapi, di
sisi lain, adalah salah jika kita berpikir bahwa, dialektika menyatakan bahwa
proses di alam semesta adalah setara (genap) dan perlahan (gradual).
Hukum-hukum dialektika – dan perlu dicatat: konsep-konsep ini kedengaran lebih
rumit daripada kenyataan sesungguhnya – hukum-hukum dialektika menjelaskan cara
dimana proses-proses perubahan dalam realitas terjadi.