MDH (3)
KUANTITAS
MENJADI KUALITAS
Marilah kita
mulai dengan hukum transformasi dari kuantitas menjadi kualitas. Hukum ini
menyatakan bahwa proses-proses perubahan – gerak di alam semesta – tidaklah
perlahan (gradual), dan juga tidak setara. Periode-periode perubahan yang
relatif gradual atau perubahan kecil selalu diselingi dengan periode-periode
perubahan yang sangat cepat – perubahan semacam ini tidak bisa diukur dengan
kuantitas, melainkan hanya bisa diukur dengan kualitas.
Sebagai contoh,
kembali kita ambil dari ilmu alam, coba kita bayangkan saat kita memanaskan
air. Anda hanya bisa betul-betul mengukur ("melakukan kuantifikasi")
dalam hal derajat temperatur/suhu, yaitu perubahan ketika Anda menambahkan
panas terhadap air itu. Katakanlah, dari 10 derajat Celcius (ini adalah
temperatur normal air keran) menjadi sekitar 98 derajat Celcius, maka perubahan
itu akan tetap kuantitatif, yaitu air akan tetap berupa air, walaupun menjadi
lebih panas. Tetapi kemudian akan sampai suatu tahap dimana perubahan itu
menjadi kualitatif, dan air pun berubah menjadi uap. Anda tidak bisa lagi
menjelaskan perubahan itu hanya secara kuantitatif ketika air itu dipanaskan
dari 98 derajat menjadi 102 derajat Celcius. Kita harus mengatakan bahwa suatu
perubahan kualitatif (air menjadi uap) telah terjadi akibat akumulasi perubahan
kuantitatif (menambahkan panas terus-menerus).
Dan inilah yang
dimaksud oleh Marx dan Engels ketika mereka menyebutkan transformasi dari
kuantitas menjadi kualitas. Hal yang sama dapat dilihat pada perkembangan
species. Jika kita melihat ke sekeliling, kita akan mendapati tingkat varitas
dari homo sapiens. Varitas itu dapat diukur secara kuantitatif, misalnya tinggi
badan, berat badan, warna kulit, panjang hidung, dll. Namun jika
perubahan-perubahan evolusioner bergerak maju sampai suatu tahap, dibawah
pengaruh perubahan-perubahan lingkungan, maka perubahan-perubahan kuantitatif
akan berakumulasi menjadi suatu perubahan kualitatif. Dengan kata lain, Anda
tidak akan lagi bisa menandai perubahan pada suatu species hewan atau tumbuhan
itu hanya dengan detail-detail (rincian) kuantitatif. Species tersebut akan
jadi berbeda secara kualitatif. Sebagai contoh, kita, sebagai suatu species,
secara kualitatif berbeda dengan simpanse atau gorila, dan mereka ini pun
secara kualitatif berbeda dengan species mamalia lainnya. Dan
perbedaan-perbedaan kualitatif itu, lompatan-lompatan evolusioner itu, terjadi
akibat perubahan-perubahan kuantitatif di masa lalu.
Ide Marxisme
ialah bahwa akan selalu terdapat periode-periode perubahan gradual yang
diselingi dengan periode-periode perubahan tiba-tiba. Dalam kehamilan,
misalnya, ada suatu periode perkembangan yang gradual, dan kemudian suatu
periode perkembangan yang sangat mendadak di penghujung kehamilan itu. Sangat
sering kaum Marxis menggunakan analogi (perbandingan) kehamilan untuk
menggambarkan perkembangan perang dan revolusi. Hal tersebut menunjukkan
lompatan-lompatan kualitatif dalam perkembangan sosial; tetapi perubahan itu
muncul sebagai akibat akumulasi kontradiksi-kontradiksi kuantitatif dalam
masyarakat.