MDH (4)
NEGASI DARI
NEGASI
Hukum kedua
dari dialektika adalah ‘hukum negasi dari negasi’, dan sekali lagi, ini
kedengaran lebih rumit daripada yang sebenarnya. ‘Negasi’ dalam hal ini secara sederhana berarti
gugurnya sesuatu, kematian suatu benda karena ia bertransformasi (berubah)
menjadi benda yang lain. Sebagai contoh, perkembangan masyarakat kelas dalam
sejarah kemanusiaan menunjukkan negasi (gugurnya) masyarakat sebelumnya yang
tanpa-kelas. Dan di masa yang akan datang, dengan adanya perkembangan
komunisme, kita akan mendapati suatu masyarakat tanpa-kelas yang lain, yang ini
akan berarti negasi terhadap semua masyarakat kelas yang ada sekarang.
Jadi, hukum negasi dari negasi secara sederhana menyatakan bahwa seiring
munculnya suatu sistem (menjadi ada/eksis), maka ia akan memaksa sistem lainnya
untuk sirna (mati). Tetapi, ini bukan berarti bahwa sistem yang kedua ini
bersifat permanen atau tak bisa berubah. Sistem yang kedua itu sendiri, menjadi
ter-negasi-kan akibat perkembangan-perkembangan lebih lanjut dan proses-proses
perubahandalam masyarakat. Karena masyarakat kelas telah menjadi negasi dari
masyarakat tanpa-kelas, maka masyarakat komunis akan menjadi negasi dari
masyarakat kelas – negasi dari negasi.
Konsep lainnya dari dialektika adalah hukum ‘interpenetration of opposites’
(saling-menerobos dari hal-hal yang bertentangan). Hukum
ini secara cukup sederhana menyatakan bahwa proses-proses perubahan terjadi
karena adanya kontradiksi-kontradiksi – karena konflik-konflik yang terjadi di
antara elemen-elemen yang berbeda, yang melekat dalam semua proses alam maupun
sosial.
Barangkali
contoh paling tepat dari ‘interpenetration of opposites’ dalam ilmu pengetahuan
alam adalah ‘teori quantum’. Teori ini didasarkan atas konsep bahwa energi
memiliki karakter ganda – yaitu untuk beberapa tujuan, menurut beberapa
eksperimen, energi eksis dalam bentuk gelombang, misalnya gelombang elektro
magnetik. Tetapi untuk
tujuan-tujuan lain, energi mewujudkan diri sebagai partikel. Dengan kata lain,
sama sekali diterima di kalangan ilmuwan bahwa materidan energi sebetulnya bisa
eksis dalam dua bentuk yang berbeda pada satu waktu yang sama – di satu sisi,
sebagai sejenis gelombang yang tak kelihatan, dan di sisi lain, sebagai sebuah
partikel dengan ‘quantum’ (jumlah) energi tertentu yang ada di dalamnya.
Karena itu, basis dari teori quantum dalam ilmu fisika modern adalah
kontradiksi. Namun ada banyak lagi kontradiksi yang dikenal dalam ilmu
pengetahuan. Energi elektromagnetik, misalnya, menjadi bergerak akibat dorongan
positif dan negatif atas satu sama lain. Magnetisme tergantung pada eksistensi
kutub utara dan kutub selatan. Hal-hal ini tidak bisa eksis secara terpisah
(sendiri-sendiri). Mereka eksis dan beroperasi justru akibat kekuatan-kekuatan
yang bertentangan, yang ada dalam sistem yang satu dan sama.
Hal yang serupa, setiap masyarakat saat ini terdiri atas elemen-elemen
berbeda yang bertentangan, yang bergabung bersama dalam satu sistem, yang
membuat mustahil bagi masyarakat apapun, di negeri manapun untuk tetap stabil
dan tak berubah. Metode dialektis – bertentangan dengan metode logika formal – melatih
kita untuk mengidentifikasi (mengenali) kontradiksi-kontradiksi ini, dan dengan
demikian berarti mempelajari secara mendalam perubahan yang sedang terjadi.
Kaum Marxis tidak merasa malu untuk mengatakan bahwa terdapat elemen-elemen
yang bertentangan dalam setiap proses sosial. Sebaliknya, justru dengan
mengenali dan memahami kepentingan-kepentingan yang bertentangan, yang terdapat
dalam proses yang sama itu, maka kita akan mampu untuk mengarahkan perubahan
yang diinginkan, dan konsekuensinya juga berusaha untuk mengidentifikasi maksud
dan tujuan yang perlu dan mungkin dalam situasi seperti itu untuk dirumuskan
dari sudut pandang kelas-buruh.
Pada saat yang sama, Marxisme tidaklah mengabaikan logika formal sama
sekali. Akan tetapi, adalah penting untuk melihat – dari sudut pandang
pemahaman terhadap perkembangan-perkembangan sosial – bahwa logika formal
haruslah ditempatkan pada posisi kedua.
Kita semua menggunakan logika formal untuk keperluan sehari-hari. Logika
formal memberikan perhitungan-perhitungan yang berguna bagi kita untuk
komunikasi dan melaksanakan aktivitas sehari-hari. Kita tidak akan bisa menjalani kehidupan normal
tanpa berbasa-basi menggunakan logika formal, tanpa menggunakan perhitungan
bahwa satu sama dengan satu. Akan tetapi, di sisi lain, kita harus melihat
keterbatasan-keterbatasan logika formal – keterbatasan-keterbatasan yang
menjadi jelas dalam ilmu pengetahuan jika kita mempelajari proses-proses secara
mendalam dan mendetail, dan juga ketika kita mempelajari proses-proses sosial
dan politik dengan lebih teliti.
Dialektika sangat jarang diterima oleh para ilmuwan. Beberapa ilmuwan
dialektis, tetapi mayoritas, bahkan sampai saat ini, selalu mencampur-adukkan
pendekatan materialis dengan segala macam ide-ide formal dan idealistik. Kalau
seperti itu yang terjadi di bidang ilmu pengetahuan alam, maka di bidang ilmu
pengetahuan sosial adalah jauh lebih parah. Penyebabnya cukup jelas. Jika Anda
mencoba meneliti masyarakat dan proses-proses sosial dari sudut pandang ilmiah,
maka Anda tidak bisa menghindari untuk sampai pada kontradiksi-kontradiksi
dalam masyarakat kapitalis, dan kebutuhan untuk transformasi sosial masyarakat.
Namun perguruan-perguruan tinggi, yang seharusnya menjadi pusatstudi dan
penelitian, dibawah sistem kapitalis ini jauh dari independent terhadap kelas
yang berkuasa dan negara. Itulah sebabnya mengapa ilmu pengetahuan alam masih
memiliki suatu metode ilmiah yang cenderung kepada materialisme dialektis;
tetapi ketikasampai pada ilmu pengetahuan sosial, maka Anda akan mendapati di
sekolah tinggi dan politeknik, serta universitas-universitas, formalisme dan
idealisme yang paling parah. Hal ini bukannya tidak berhubungan dengan
kepentingan-kepentingan tertentu dari para profesor dan akademisi yang digaji
tinggi. Adalah jelas dan tak bisa dihindari bahwa posisi istimewa mereka di
mata masyarakat akan memiliki beberapa cerminan dan pengaruh pada apa yang
harus mereka ajarkan. Pandangan dan prasangka-prasangka subyektif mereka
sendiri akan disertakan dalam ‘pengetahuan’ yang mereka sampaikan kepada
mahasiswa mereka, dan begitu seterusnya sampai ke tingkat sekolah-sekolah.
Sejarawan borjuis, khususnya, adalah di antara ilmuwan-ilmuwan sosial yang
paling berpandangan sempit. Berapa banyak kita telah
melihat contoh-contoh sejarawan borjuis yang membayangkan bahwa sejarah
berakhir kemarin! Di sini, di Inggris, mereka semua nampaknya mengakui
masa-masa mengerikan sewaktu imperialisme Inggris abad ke-17, 18, sampai abad
ke-19; bahwa Inggris terlibat dalam lalu lintas perdagangan budak; bahwa
Inggris juga bertanggung jawab terhadap penaklukan rakyat di tanah-tanah
jajahan yang paling berdarah; bahwa Inggris juga harus bertanggung jawab
terhadap eksploitasi paling buruk terhadap buruh Inggris, termasuk wanita dan
anak-anak di tambang-tambang batu bara, di pabrik-pabrik pemintalan kapas, dst.
Mereka akan menerima kenyataan adanya kekejaman dan ketidakadilan ini,
tetapi hanya sampai kemarin. Namun jika kita bicara tentang masa sekarang,
tentu saja, mereka akan menganggap bahwa imperialisme Inggris tiba-tiba jadi
demokratis dan progressif.
dan hal tersebut sepenuhnya cuma satu sisi saja, satu cara pandang yang
sepenuhnya berat sebelah dalam melihat sejarah, yang secara diametris
berlawanan dengan metode Marxisme. Marx dan Engels terbiasa untuk memandang
proses-proses sosial dari sudut pandang dialektis yang sama sebagaimana mereka
memandang alam - yaitu memandangnya dari sudut pandang proses-proses itu
sebenarnya terjadi.
dalam berbagai diskusi dan debat kita sehari-hari di dalam gerakan buruh,
kita akan seringkali menjumpai orang-orang yanf formalis. Bahkan banyak orang
kiri akan memandang berbagai hal dalam cara yang kaku dan formal, tanpa
pemahaman akan arah yand di dalamnya hal-hal tersebut tadi bergerak.
Sayap kanan di
dalam gerakan buruh, dan juga beberapa orang di sayap kiri, percaya bahwa teori
Marxis adalah dogma, yakni, mereka percaya bahwa "teori" itu
selayaknya beban seberat 600 pound (1 pound = 2,2 kg) di atas pundak seorang
aktivis, dan semakin cepat si aktivis itu membuang beban tersebut, maka ia akan
bisa makin aktiv dan efektif jadinya.
namun itu
adalah konsepsi yang sepenuhnya keliru mengenai keseluruhan sifat teori Marxis.
pada kenyataan yang sesungguhnya, Marxisme adalah lawan dari dogma. Marxisme
setepat-tepatnya adalah metode untuk memahami sepenuhnya proses-proses
perubahan yang terjadi di sekitar kita.
Tidak ada
satupu hal yang ajeg, dan tiada pula sesuatupun yang tetap tak berubah. adalah
kaum formalis yang melihat masyarakat sebagai foto yang tak bergerak, mereka
dikuasai oleh situasi-situasi yang mereka hadapi sebab mereka tidak mampu
melihat bagaimana dan mengapa berbagai hal akan berubah. pendekatan macam
beginilah yang dapat dengan mudah menggiring orang pada penerimaan yang
dogmatis dari adanya berbagai hal sebagaimanan hal itu ada ataupun telah ada
sebagai benda yang ajeg, tanpa pemahaman tentang ketidakmungkinannya perubahan
untuk dielakkan.