PETA PEMIKIRAN HEGEL (2)
DIALEKTIKA
Dialektika merupakan metode yang dipakai Hegel dalam
memahami realitas sebagai perjalanan ide menuju pada kesempurnaan. Menelusuri
meteri baginya adalah kesia-siaan sebab materi hanyalan manifestasi dari
perjalanan ide tersebut. Dengan dialektika, memahami ide sebagai realitas
menjadi dimungkinkan.
Dialektika dapat dipahami sebagai “The Theory of the
Union of opposites” (teori tentang persatuan hal-hal yang
bertentangan). Terdapat tiga unsur atau konsep dalam memahami dialektika yaitu
pertama, tesis, kedua sebagai lawan dari yang pertama disebut dengan antitesis.
Dari pertarungan dua unsur ini lalu muncul unsur ketiga yang memperdamaikan
keduanya yang disebut dengan sinthesis. Dengan demikian, dialektika
dapat juga disebutsebagai proses berfikir secara totalitas yaitu setiap unsur
saling bernegasi (mengingkari dan diingkari), saling berkontradiksi (melawan
dan dilawan), serta saling bermediasi (memperantarai dan diperantarai).
Untuk memahami proses
triadic itu (thesis, Antitesis, dan sithesis), Hegel menggunakan kata dalam
bahsa Jerman yaitu aufheben Kata ini memiliki makna “menyangkal”, “menyimpan”
dan “mengangkat”. Jadi dialektika bagi Hegel bukanlah penyelesaian kontradiksi
dengan meniadakan salah satunya tetapi lebihdari itu. Proposi atau tesis dan
lawannya antitesis memiliki kebenaran masing-masing yang kemudian diangkat
menjadi kebenaran yang lebih tinggi. Tj. Lavine menerangkan proses ini sebagai
berikut:
1. menunda klonflik antara tesis dan
antitesis.
2. Menyimpan elemen kebenaran dari tesis
dan antitesis.
3. Memgungguli perlawanan dan meninggikan
konflik hingga mencapai kebenaran yang lebih tinggi.
Hagel memberikan contoh
sebagai berikut “yang mutlak adalah yang berada murni (pure being)” yang tidak
memiliki kualitas apapun. Namun yang berada murni tanpa kualitas apapun adalah
“yang tiada (nothing)” ini merupakan regasi dari proposi atau tesis, oleh sebab
itu kita terarah pada antitesis “yang mutlak adalah yang tiada”. Penyatuan
antara tesis dan antitsis tersebut menjadi sinthesis yaitu apa yang disebut
menjadi (becoming) maka “yang mutlak adalah yang menjadi”, sinthesis inilah
kebenaran yang lebih tinggi.
Dialektika Hegel merupakan
alternatif tradisional yang mengasumsikan bahwa proposi haruslah terdiri dari
subjek dan predikat. Logika seperti ini bagi Hegel tidaklah memadai. Berikut
contoh yang bisa sedikit menerangkan tentang hal tersebut, dalam logika
tradisional terdapat proposi sebagai berikut Heru adalah seorang paman”, kata
paman disini merupakan predikat yang dinyatakan begitu saja benar (benar dengan
sendirinya), Heru tidak perlu mengetahui keberadaannya sebagai paman, maka
dalam hal ini logika tradisional mengandung cacat. Hegel menggantinya dengan
dialektika untuk menuju pada kebenaran mutlak, paman bagi Hegel tidaklah benar
dengan sendirinya, sebab eksistensinya sebagai paman juga membutuhkan
eksistensi orang lain sebagai keponakan. Dari perseteruan antara paman sebagai
tesis dan keponakan sebagai antitsis maka tidaklah memungkinkan kebenaran
parsial atau individual, kesimpulannya adalah kebenaran terdiri dari paman dan
keponakan. Jika dialektika ini diteruskan akan mencap[ai kebenaran absolut yang
mencakup keseluruhan.
Tidak ada kebenaran absolut
tanpa melalui keseluruhan dialektika. Setiap tahap yang belakangan mengandung
semua tahap terdahulu. Sebagaimana larutan, tak satupun darinya yang secara
keseluruhan digantikan, tetapi diberi tempat sebagai suatu unsur pokok di dalam
keseluruhan.