Ekonomi AS

June 2nd, 2008 by revantio

Krisis subprime mortgage yang bermula pada akhir Juli 2007 ternyata
eksesnya masih berlanjut hingga kini. Beberapa bank investasi skala global (global investment banks) mengalami
kerugian besar, bahkan dipaksa memangkas ribuan karyawannya. Hingga kini, pasar
keuangan global terus bergejolak kendati telah dilakukan langkah-langkah
represif oleh bank-bank sentral dunia.
Pertama
, dimotori Bank Sentral AS (The Federal Reserve Bank/The Fed),
dilakukan penurunan suku bunga. Bahkan khusus untuk The Fed,telah ditu-runkan
75 basis poin menjadi 3,5%. Kedua,
bank-bank sentral menggelontori pasar keuangan dengan likuiditas yang besar,
mencapai USD500 miliar, untuk menormalkan kepercayaan pelaku pasar. Ketiga,Pemerintah dan Kongres AS
menyepakati dikeluarkannya paket stimulus ekonomi senilai USD145 miliar atau
setara dengan 1% dari produk domestik bruto (PDB).

Langkah-langkah dramatis itu dilakukan untuk segera memulihkan kepercayaan
pelaku pasar. Paling tidak,untuk mengerem kepanikan di pasar saham. Dengan dipangkasnya
suku bunga, persoalan utama perekonomian AS bukan lagi pada suku bunga tinggi,
melainkan anjloknya kepercayaan pasar. Maklum, ketika suku bunga masih di atas
4%,sebagai refleksi kebijakan uang ketat,terjadi kredit macet. Ketika hal ini
menimpa kredit perumahan kelas dua (subprime
mortgage
), terjadilah respons kepanikan di pasar surat berharga dengan underlying kredit tersebut. Padahal,
sejatinya subprime mortgage ini hanya
15% dari seluruh kredit perumahan (mortgage
loans
) di AS, yang diperkirakan mencapai USD10 triliun. Masalah ini menjadi
kepanikan besar karena subprime mortgage
dan derivasinya memang sedang menjadi instrumen yang tumbuh pesat.

Diluarsoal krisis subprime mortgage,
sebenarnya perekonomian AS sedang berada dalam tren positif. Melemahnya dolar
AS telah membantu kinerja ekspor sehingga defisit perdagangannya
”hanya”USD352,7 miliar pada semester I 2007.Memang masih ada masalah dengan
belanja pemerintah yang membengkak, tetapi situasi fiskal ini dinilai masih di
jalur yang benar (on the track).

Pilihan menurunkan suku bunga mencerminkan kebijakan Pemerintah AS yang
cenderung memilih ”mengorbankan” inflasi ketimbang membiarkan eskalasi
kepanikan subprime mortgageberlanjut dan berkembang liar, yang bisa
menjerumuskan seluruh dunia ke jurang resesi ekonomi yang dalam (deep
recession).

Inflasi di AS tahun ini diperkirakan akan mencapai 3,5% dengan pertumbuhan
ekonomi berkisar 0,5–1,0%. Kendati demikian,komplikasi masalah subprime
mortgage tidak berarti sudah selesai secara tuntas. Buktinya, hingga kini
imbasnya masih terasa karena sebagian orang percaya, perekonomian dunia masih
dibayangi kemungkinan krisis ekonomi yang terutama disebabkan krisis energi.

Pasar Saham Dunia

June 2nd, 2008 by revantio

Pasar saham di berbagai belahan dunia
jatuh. Kepanikan melanda akibat kekhawatiran bahwa Amerika Serikat akan
terbelit resesi.Bursa Wall Street, pada 22 Januari 2008  langsung mengalami kepanikan setelah sesi
perdagangan dibuka. Saham blue-chip lansung jatuh 400 poin, namun kemudian
sedikit membaik sehingga hanya jatuh 135,10 poin (total turun 1,12 persen). Kejatuhan
yang cukup signifikan terjadi pada Nasdaq, turun 59,72 poin (2,55 persen).
Indeks 500 Standard & Poor’s turun 20,20 poin (1,52 persen).

Penurunan harga saham di bursa AS tersebut
merupakan rentetan dari kepanikan yang melanda bursa saham di berbagai belahan
dunia atas kekhawatiran terjadi resesi di AS. Pasar saham Eropa pada Senin lalu
mengalami kejatuhan terburuk semenjak kasus serangan teroris 11 September 2001
di New York. Kekhawatiran pasar saham dunia tersebut kian bertambah setelah
Bank Sentral AS (The Fed) yang menurunkan suku bunga 75 basis poin menjadi 3,50
persen, yang ditujukan untuk meredam kekhawatiran tersebut pada Selasa.Pasar
saham Eropa Selasa juga masih mengalami penurunan. Di bursa China, indeks saham
unggulan terpangkas 7,22 persen, bursa Sydney (Australia) jatuh 7,1 persen. Bursa
saham di kawasan Teluk dan Arab juga menderita hal sama. Bursa Arab Saudi yang merupakan
bursa saham terbesar di kawasan Arab, jatuh 9,7 persen. Bursa Dubai juga jatuh,
6,2 persen

Sementara
itu, Dana Moneter Internasional (IMF) kembali menurunkan proyeksi pertumbuhan
ekonomi global untuk tahun 2008 ini. IMF menilai bahwa masalah yang kini
dihadapi perekonomian global yang bersumber dari krisis di sektor perumahan
Amerika Serikat (AS) dapat menghambat pertumbuhan ekonomi seluruh dunia. Pada
laporan dua tahunan World Economic Outlook (WEO) yang dikeluarkan pada bulan
Oktober tahun 2007 lalu telah diturunkan proyeksi pertumbuhan global menjadi
4.8% dari proyeksi bulan Juli 2007 yang berada pada angka 5.2%. Pada
pemberitaan yang dilansir pada tanggal 30 Januari 2008, IMF kembali menurunkan
pertumbuhan ekonomi global menjadi 4.1% pada tahun 2008. Proyeksi tersebut
terdapat di dalam revisi World Economic Outlook yang diluncurkan oleh IMF.
Penurunan itu dilakukan menyusul terjadinya gejolak di pasar-pasar keuangan
global sejak Agustus 2007 lalu. Ancaman terbesar terhadap ekonomi dunia adalah
gejolak pasar keuangan yang bersumber dari sektor subprime mortgage AS yang
berisiko tinggi, yakni pinjaman diberikan kepada para pembeli rumah dengan
riwayat kredit yang buruk. Ini telah memukul bank-bank dan kreditor di seluruh
dunia dan membuat kondisi kredit lebih sulit.

IMF kembali menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi di AS menjadi 1.5%.
Sebelumnya pada rilis WEO Oktober tahun lalu, lembaga keuangan dunia ini telah
menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi AS pada tahun 2008 ini menjadi 1,9%.
Pada tahun 2007 lalu pertumbuhan ekonomi AS sebesar 2.2%. Sementara itu
pertumbuhan ekonomi di zona Eropa pada tahun 2008 ini diprediksi akan bertumbuh
sebesar 1.6%. Proyeksi pertumbuhan ekonomi zona Eropa ini diturunkan sebesar
0.5% dari proyeksi sebelumnya. Pertumbuhan ekonomi Jepang diturunkan sebesar
0.2% menjadi 1.5%. Akan tetapi IMF masih meyakini bahwa pertumbuhan ekonomi di
China masih berada pada angka 10%. Ketegangan di pasar keuangan dunia saat ini
bahkan belum mampu diredam setelah Fed melakukan pemotongan suku bunga Fed rate
sebesar 125 bps. Pemotongan suku bunga Fed rate tersebut merupakan yang paling
cepat sejak tahun 2003 lalu.

Ekonomi Dunia

June 2nd, 2008 by revantio

Untuk mengikuti pertumuan, sekitar 1.000 pebisnis terbesar dunia harus
merogoh kocek 42.500 Swiss francs (26.300 euro, US$ 38.700) untuk selembar
kartu keanggotaan tahunan bagi klub eksklusif itu – belum termasuk tambahan
11.000 euro per orang untuk menghadiri pertemuan tahunan ini.

Minggu 27 Januari 2008, para pemimpin politik serta pebisnis global (borjuis
internasional) meninggalkan pertemuan tahunan mereka di tempat tetirah ski
Swiss, Davos, dengan wajah yang agak sedikit muram mereka meninggalkan ruang
pertemuan untuk kembali ke kerajaan bisnisnya. Dibandingkan suasana gempita
tahun lalu, Davos 2008 yang muram didominasi pembicaraan akan resesi Amerika
Serikat (AS) dan pelambatan ekonomi secara meluas. Condoleezza Rice Menteri
Luar Negeri (Menlu) AS membuka pertemuan para pemimpin politik dan pebisnis
terkemuka itu, dengan semangat serta gaya berbicara yang berapi-api dia tetap memberi
harapan mengenai “ketahanan” ekonomi AS. Namun, pasar saham internasional tetap
bergejolak dalam kekhawatiran krisis kredit perumahan menengah (subprime
mortgage), hanya sedikit yang memastikan optimisme Rice, meski terdapat
perbedaan pendapat di antara para eksekutif itu mengenai skala dan durasi
kontraksi ekonomi AS.

Satu hari sebelumnya, Sabtu (26/1),
Direktur Jenderal IMF Dominique Strauss-Kahn menyatakan spekulasi mengenai
sifat pasti suatu resesi tidak mengenai titiknya dan pemerintah patut
menggunakan kebijakan anggaran dan moneter untuk memerangi krisis. “Yang jelas
adalah akan ada pelambatan serius dan membutuhkan tanggapan serius. Kita tidak
dapat bergantung pada kebijakan moneter semata,” kata Strauss-Kahn.
Di tengah pertemuan Davos, bank sentral AS, Federal Reserve, mengumumkan
pengurangan tingkat suku bunga spektakuler 75 basis poin. “Sembrono” dan
“berbahaya” merupakan perkiraan Stephen Roach, kepala bank investasi AS, Morgan
Stanley di Asia.Perdana Menteri Jepang Yasuo Fukuda, yang akan mengetuai
pertemuan tahunan Kelompok Delapan (G8) Juli, memberikan sambutan yang
memperingatkan pandangan yang “terlalu pesimis-tis” menghadapi permasalahan
mendatang. “Namun, pada waktu yang sama kita perlu memiliki sense of urgency
sebagaimana kita melakukan tindakan koordinasi,” ujar Fukuda.

Pada bidang geopolitik, perdebatan fokus
pada upaya perdamaian di Timur Tengah, pendirian Iran mengenai program nuklir
serta kebangkitan China dan India. Sebagaimana kita ketahui Iran mencoba
melepas kekangan dunia internasional, ekonomiCina dan india menunjukan
pertumbuhan yang signifikan, sepertinya hal ini membutikan bahwa penduduk yang
padat tidak menjadi faktor penghambat untuk mencapai pertumbuhan ekonomi.

 

Menilik data World Economic Outlook oleh IMF pada Oktober 2007,
ekonomi dunia terlihat mengalami pelambatan yang cukup cepat. Pada 2006
pertumbuhan GDP dunia 5,4%, kemudian turun menjadi 5,2% pada 2007 dan
diperkirakan makin turun ke level 4,8% pada 2008. Semua kawasan dunia
terpangkas prospek ekonominya, termasuk Cina. Prospek ekonomi Cina terpangkas
1%.

 

          
Di AS, ancaman resesi jauh lebih besar daripada ancaman inflasi. Oleh karena
itulah suku bunga di AS diperkirakan akan turun. Kemudian, dengan benchmark
pertumbuhan ekonomi dunia 2008 sebesar 4,8%, probabilitas pertumbuhan ekonomi
dunia lebih rendah dari 4,8% adalah lebih besar daripada probabilitas lebih
tinggi dari 4,8%. Jadi, risiko lebih rendah dari base scenario adalah
lebih besar.

 

          
Faktor yang menyebabkan lebih besarnya risiko pertumbuhan ekonomi dunia lebih
rendah dari 4,8% terutama adalah masalah kondisi finansial di dunia, khususnya
di AS. Seperti diketahui, sejumlah perusahaan keuangan besar di AS baru-baru
ini mengalami kerugian besar mencapai puluhan miliar dolar AS. Itu luar
biasa  efeknya dan perlu waktu untuk pulih serta jauh lebih berat
penyesuaiannya ketimbang kenaikan harga minyak. Risiko kenaikan harga minyak
hanya di urutan kelima dalam urutan risiko ekonomi dunia sekarang ini. Di
atasnya masih ada risiko domestic demand di AS, Eropa, dan Jepang yang
akan mengalami penurunan.

 

          
Harga minyak dunia pada 2008 diperkirakan akan lebih tinggi. Faktor utamanya
adalah OPEC. Pasalnya, sekalipun pangsa OPEC tidak mencapai 50%  dari
total pasokan minyak dunia, tetapi spare capacity ada di OPEC. Spare
capacity
minyak dunia hanya sekitar 2 juta barel per hari dan itu hampir
semuanya dimiliki oleh OPEC. Dan sayangnya, reserve migas  dunia
yang cuma naik 2% per tahun harus digali dari perut bumi dengan biaya yang
sangat mahal. Kenaikan rata-rata biayanya setiap tahun  45% karena segala
sesuatunya terbatas, seperti rig dan lain-lain. Berat untuk meningkatkan
produksi atau akan terjadi supply constraint. Kalau ini terjadi, maka
pasar minyak tentu saja akan tetap ketat, sehingga  harga minyak dunia
2008 akan lebih tinggi ketimbang harga rata-rata 2007.

 

 Dari catatan peristiwa pada kuartal pertama
tahun 2008 ini ekonomi dunia kembali menunjukan resesi yang sebenarnya cukup
hebat, walaupun tampaknya kali ini semua spekulan atau para petinggi ekonomi
dunia tampaknya sepakat untuk bersatu mencoba menahan kelesuan kapitalisme
ditengah kosumsi yang begitu tinggi. Dalam hal ini masyarakat yang kosumtif
telah membuat ekonomi dunia mengalami pelambatan yang hebat.

 

 Buble
economic
hampir dipastikan akan meletus kembali jika kelusuan sekarang
tidak bisa diatasi. Harga minyak dunia yang terus melesat bak meteor menjadi
kendala utam adi negara-negara berkembang yang mengikuti mekanisme pasar.  

Siklus

June 1st, 2008 by revantio
Sinar
 Api
 Panas
 Bakar
 Abu
 Tanah
Hidup
 Bernapas
 Makan 
 Tumbuh
 Besar
 Mati
Udara
 Angin
 Badai 
 Topan
 Bencana
Kapitalisme
 Eksploitasi
 Ekspansi
 Akumulasi
Tertindas
Calon rampok
 Perampok
 Mantan rampok

Siklus

June 1st, 2008 by revantio
Sinar
 Api
 Panas
 Bakar
 Abu
 Tanah
Hidup
 Bernapas
 Makan 
 Tumbuh
 Besar
 Mati
Udara
 Angin
 Badai 
 Topan
 Bencana
Kapitalisme
 Eksploitasi
 Ekspansi
 Akumulasi
Tertindas
Calon rampok
 Perampok
 Mantan rampok

Biasa saja

June 1st, 2008 by revantio
Helai daun tak menghujam bumi
Dengan indah berayun berdepak tangan
Dengan rangkulan angin merebut kesejatian abadi
Tak terkira bersatu bersama deru udara pagi
 Apa bagimu artinya
 Bagian mana yang kamu suka
 Apa yang kamu rasakan
Dia patah dari tangkainya
Dia dipetik dari batangnya
Dia rengut manisnya
Dan dia telah jatuh ke tanah
 Bagiku enak saja
 Tak berlebihan, biasa saja
 Sudah.............

Ralisme, Pluralisme dan Strukturalisme

May 18th, 2008 by revantio

Beberapa teori
dalam HI berkonsentrasi pada aktor dalam sistem internasional, dan hal ini
memiliki konsekuensi terhadap pemikiran yang lebih lanjut. Perbedaan pada aktor
mana yang lebih dianggap penting dan konsentrasi pada apa yang menjadi tujuan
dari aktor-aktor ini tentu membuat teori seakan tidak menemui kesepakatan
mutlak bahkan bisa jadi bertantangan satu sama lain.

Realisme misalnya
berkonsentrasi pada Negara sebagai aktor utama dan tujuan dari Negara tak lain ada
untuk mendapatkan ‘power’ yang sebesar-besarnya. Terkait dengan realis para
pemikir neo-realis (atau realisme baru) dan struktural realis, juga masih
melihat Negara sebagai aktor utama dalam HI, meski pemikiran realisme baru ini
sudah mulai menerima adanya aktor lain yang punya peran di pinggiran.

Berbeda dengan perspektif
realis yang percaya bahwa untuk memahami HI, kita harus memahami tingkahlaku
Negara, pemikir pluralis tidak setuju jika aktor signifikan yang utama
dalam HI adalah Negara. Mereka melihat
Negara hanyalah salah satu dari banyak aktor yang sama-sama punya peran penting
dalam studi HI. Mereka tidak hanya menekankan pada pentingnya aktor lain selain
Negara seperti MNCs misalnya, mereka juga skeptis terhadap kekuasaan dan keamanan
Negara terlalu dianggap memiliki peran sentral.  

Selain dua
pendekatan diatas kita juga mengenal apa yang disebut dengan pendekatan
strukturalis. Strukturalis menekankan pada hal yang berbeda dari kedua
pemikiran diatas. Dari pada
berkonsentrasi pada aktor HI, ilmuwan strukturalis lebih berkonsentrasi pada
struktrur dari sebuah sistem. Mereka melihat negara dan aktor lainnya bertindak
dalam batasan sistem yang ada dan karenanya mereka tidak memiliki kebebasan
yang mutlak dalam bertindak. Oleh karena itu para pembuat keputusan harus
berfikir dalam bertindak. Untuk memahami sistem internasional, bagi
strukturalis, kira harus berkonsentrasi pada struktur-struktur yang ada bukan
pada tingkah laku dan pilihan-pilihan tindakan para aktor tersebut.

 

Realisme dan Peran Sentral Negara

Secara singkat dapat dikatakan bahwa Realisme
merupakan pendekatan yang menekankan pada Power (kekuatan/kekuasaan) dan
menggap negara sebagai aktor dominan dalam sistem internasional. Power bisa
didefinisikan sebagai kemampuan total dari suatu negara yang meliputi kekayaan
alam, kekayaan sintetis (buatan) hingga kemampuan sosio-psikologi.

Hans J Morgenthau mengatakan pada dasarnya setiap
manusia (negara) ingin mendapatkan power, mempertahankan, dan memperluas
kekuasaan jika hal ini berbenturan dengan yang lain maka akan menimbulkan ’struggle for power’. Mengacu pada banyak
pemikir yang terkait dengan realisme seperti Hans J Morgenthau, Thomas Hobbes,
Thucydides, dan lain-lain, maka pendekatan ini disebut pula sebagai pendekatan
pragmatis dalam politik internasional. Pendekatan ini pun banyak diperbaharui
oleh para teoritisi HI yang bisa dikelompokkan dalam neo-realisme:

Inti pemikiran Realisme dalam HI dapat
disimpulkan sebagai berikut:

1. Negara sebagai pemegan peranan dominan selalu
mempunyai kepentingan yang berbenturan.
Perbedaan kepentingan akan menimbulkan perang atau konflik.

2. Power yang dimiliki oleh suatu negara
sangat mempengaruhi penyelesaian konflik, dan menentukan pengaruhnya atas negara lain.

3. Politik didefinisikan sebagai memperluas power,
mempertahankan, dan menunjukkan power.

4. Setiap negara dianjurkan untuk membangun kekuatan,
beraliansi dengan negara lain, dan memecah belah kekuatan negara lain (devide
and rule).

5. Perdamaian akan tercapai jika telah terwujud Balance of Power atau Keseimbangan
Kekuatan yaitu keadaan ketika tidak ada satu kekuatan yang mendominasi sistem
internasional.

6. Setiap negara akan selalu bergerak dan
berbuat berdasarkan kepentingan nasionalnya (national interest).

Sementara itu pemikiran neo-realis dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Pendekatan ini seperti halnya Realisme menekankan pada
peranan negara dalam hubungan internasional tetapi, tetapi mulai mengakui
adanya aktor lain yang juga berperan di pinggiran. Negara memiliki peran
sentral sementara aktor lain bersifat peripheral.

2. Mereka juga
melihat power dalam konteks yang berbeda dengan pendahulunya. Power
didefinisikan sebagai konsep relasional. Jadi Negara tidak dianggaap punya
power dengan sendirinya, melainkan dalam hubungannya dengan Negara lain.
Negara
selalu ingin memiliki power lebih dari Negara lainnya.

 

Pluralisme dan Keberagaman Aktor

Pluralisme
tidak puas pada versi pemikiran realis terutama mengenai penekanan pada aktor
Negara sebagai pusat dalam HI. Menurut pluralis saat ini Negara tidak lagi memiliki
peran sentral dalam HI, karena banyak aktor lain yang juga memiliki peranan
penting terutama aktor-akor ekonomi .

Berikut
inti pemikiran Pluralis:

  1. Jika realis berasumsi bahwa Negara ada secara
         independent dan memiliki kepentingan sendiri,  pluralis menawarkan konsep complex
         interdependence. Complex Interdependence bisa diumpamakan seperti jaring
         laba-laba, yang dikarakterkan sebagai jaringan yang banyak antara banyak
         aktor dimana tidak terdapat hirarki dalam isu yang ada.
  2. Pluralis juga menekankan bahwa aktivitas
         internasional tidak hanya melulu tentang tingkah-laku Negara akan tetapi
         juga tingkah laku aktor lain. Kepentingan Negara juga bukan hanya soal
         keamanan dan power. Banyak isu lain yang bisa diambil oleh aktor
         non-state, misalnya saja soal isu kelangkaan minyak, karena minyak
         merupakan hal penting ekonomi modern baik Negara mupun MNCs bisa mengambil
         keputusan secara berbeda dalam porsi masing-masing.
  3. Meski
         menekankan pada aktor ekonomi namun merreka tidak mengesampingkan internasional
         aktor lainnya. Misalnya gerakan religius, gerakan nasional dan lain lain,
         mereka tidak bertindak atas nama negara seperti yang diasumsikan realis.
  4. Meski
         Organisasi internasional seperti PBB dibentuk dan beranggotakan secara
         resmi negara-negara berdaulat, namun pemikir pluralis tetap berpandangan
         bahwa organisasi internasional bukan aktor utama dalam HI.

 

Strukturalisme dan Sistem Internasional

Berbeda dengan dua pendekatan diatas, yang
lebih menekankan pada aktor HI, strukturalisme lebih menekankan pada struktur
dalam sistem internasional dan menggapnya bisa memberikan penjelasan aspek mana
yang signifikan dalam menggambarkan HI. Strukturalisme tampaknya lebih terlihat
sebagai sebuah pendekatan dari pada teori itu sendiri. Karenanya strukturalisme
bisa dianggap mengepalai banyak varian
teori dibawahnya.

Berikut pandangan singkat tentang
strukturalisme:

  1. Menekankan
         pada struktur dalam sebuah sistem internasional bukan pada aktor yang
         bermain didalamnya. Fokus pada struktur dipandang lebih baik dibandingkan
         dengan pendekatan aktor dalam melihat HI.
  2. Strukturalisme
         skeptis terhadap adanya pengaruh organisasi-organisasi dalam HI termasuk
         negara, orgnasisasi internasional dan aktor lainnya  terhadap struktur luar.
  3. Analisis
         struktural dapat dibedakan tergantung pada beberapa varian yang ada, seperti.:

· Realisme
strukturalis dapat dikatakan sebagai strukturalis yang memandang negara sebagai
aktor sentral.

· Marksis
strukturalis menekankan pada struktur kelas dan sosial yang banyak terpengaruh
oleh sistem ekonomi.

· Feminist
structuralis merupakan strukturalis yang fokus pada isu gender dalam hubugnan
sosial.

BBM

May 16th, 2008 by revantio
  • Inflasi bulan April 0,57 dengan Inflasi tahunan 8,96%. Menurut Kepala
         BPS Rusman Heriawan pada April ini faktor pangan tidak lagi penyumbang
         terbesar inflasi, sekarang faktor pemicu inflasi sudah bergeser ke sektor
         energi terutama minyak tanah.
  • Karena dipicu penguatan tekanan inflasi,
         suku bunga BI akhirnya bergerak naik 25 basis point ke level 8,25%.
         Kenaikan ini merupakan kali pertama sejak Agustus 2006 dan masih
         berpotensi naik seiring dengan upaya pengendalian ekspektasi inflasi ke
         depan.
  • Dalam
         tiga bulan pertama 2008, BI menghabiskan dana sebesar USD 7 miliar atau Rp
         63 triliun untuk mengintervensi pasar dalam rangka menstabilkan nilai
         tukar rupiah. Kendati begitu, BI menegaskan cadangan devisa negara hingga
         kini masih tetap aman.
  • LPS
         menaikan suku bunga penjaminan untuk rupiah bagi bank umum sebesar 25
         basis point menjadi 8,25% sebagai penyesuaian naiknya suku bunga acuan BI
         Rate. Kenaikan ini mulai berlaku 15 Mei-14 September 2008. sementara itu
         LPS measih mempertahankan suku bunga penjaminan untuk mata uang dolar AS
         di kiisaran 3,5%, sedangkan untuk suku bunga penjaminan BPR secara
         otomatis naik 0,25% menjadi 11,75%.

 

Indikator2 diatas menujukan kondisi terakhir perekonomian kita secara makro
menjelang kenaikan BBM yang diperkirakan akan naik 23 Mei ini. Kenaikan harga
minyak mentah yang sudah menyentuh level 126 dolar AS per barel, hal inilah salah satu yang dilihat oleh
pemerintah sebagai alsan BBM dinaikan karena subsidi tentu akan memberatkan
APBN. (Ingat Semua Indikator adalah data resmi dari
pemerintah, ada kemungkinan data ini dikeluarkan untuk mendukung naiknya BBM)

Bergesernya faktor penyumbang inflasi dari sektor makanan
ke energi di satu sisi memperlihatkan negara ini mengalami sebuah krisis
energi, (membangunan Kilang juga tidak pernah dilakukan,
Pangkalan Brandan bahkan dengan sengaja dibesituakan supaya Sumatera dipasok
BBM dari Malaysia dan Singapura dengan alasan
lebih efisien

Sampai sekarang, kilang BBM juga
tidak pernah dibangun dengan benar,
Iwan Nurdin). Selain
dominasi calo minyak serta tekanan pasar bebas, tentu banyak faktor lain yang
menimbulkan kenapa pemerintah tidak pernah mau membangun kilang, seperti akan
kembali memberatkan APBN. Tentunya yang akan garap proyek
adalah Bakrie dan Medco yang selama ini dianggap sebagai Borjuasi nasional.

 

Dilihat dari sisi pandang ekonomi perbankan yang
menunjukan berbagai spekulan terkait dengan krisis subprime mortage yang tak kunjung berakhir, berbagai spekulasi
memperkirakan perbankan nasional bisa bertahan asal kebijakan BI agak sedikit
bertentangan dengan ekonomi pasar (artinya selama BI masih menintervensi pasar
maka kondisi perbankan kita bisa bertahan dari buble economic)  lain halnya
dengan aliran hot Money yang terus
mengalir lewat SBI yang telah dimulai dilelang secara Internasional di Singapur.
Hal ini bisa saja membuat ekonomi kita mengalami krisis kedua ketika dana ini
ditarik secara serentak oleh para pemiliknya atau saat jatug tempo pemerintah
tidak mempunyai dana cadangan (Jadi Ingat Eli Salomo
pernah minta data ini)
, apalagi tingkat kepercayaan masyarakat terhadap
lembaga keuangan agak sedikit memburuk setelah terjadinya korupsi di berbagai
bank nasional. Yang perlu di perhatikan adalah Sektor kredit terutama kredit
konsumsi, kemungkinan kredit di sektor ini akan macet, karena dengan naiknya
BBM ada kemungkinan retrun  kredit akan sulit dilakukan.

 

Suku Bunga acuan yang naik semenjak Agustus 2006 (8%)
hingga awal Mei menjadi 8,25% di prediksi akan menembus angka dua digit akhir
tahun ini. BI Rate yang naik ini serta Inflasi yang terus menekan dan isu
naiknya harga BBM semakin memukul kondisi perkonomian. Gejolak di pasar
keuangan memang belum terjadi, namun hal ini perlu diwaspadai terlebih kondisi
politik menjelang pemilu 2009 terus menghangat. Kondisi sektor UMKM kita sangat
lemah karena selama ini terbiasa menerima kucuran kredit, kredit ke sektor ini terus
menguat hal ini dibuktikan dengan penyaluran berbagai macam program perbankan
yang di catat BI telah seribu triliun rupiah lebih.

 

Suku bunga penjaminan yang dinaikan
LPS setelah BI Rate dinaikan tentunya akan memicu naiknya suku bunga perbankan,
yang artinya daya beli masyarakat akan terus menurun, sehingga bakal memicu
over produksi berserta efek dominonya…….(pengangguran, capital flight, dll)

 

Subsidi silang yang dijanjikan sampai detik ini
tidak pernah terbukti secara kongkrit, biaya pelayanan publik masih terus
tinggi (kesehatan, pendidikan, dll. )
Indonesia ekspor 70% batubara ke luar negeri, (padahal
tahun ini akan dibangun 10 lebih PLTU, pastinya menggunakan batu bara
) Indonesia
pengekspor LNG terbesar di dunia Indonesia ekspor 500 ribu bph minyak (kompas).
J
adi BBM naik atau tidak rakyat
terap dimiskinkan secara struktural.

 

 

 

 Moga para Steakholder di negara ini akan
berlaku seperti yang kita harapkan

Amin….

 

 

Aprio Rabadi

Menapak Angan

May 11th, 2008 by revantio

SiluetMerangkai bulan
dan bintang

Ditengah
teriknya
malam

Tak menemukan apa
yang dicari

 

Lelah , lelah,
lelah…………

Terengah-engah

Biarlah menguap
jadi kepulan asap

Hilang…..

 

Penat
serasa…….

Tak kenal kenyang

Hawa nafsu
menembus batasnya

 

Mata memadang
alam

Tak menjadikannya
guru

Penuh kedengkian

Menjemput
asa……..

 

Kutapak tanah ini

Kusuri …….

Selangkah, dua
langkah, tiga langkah

Tak kutemukan
juga….

 

Apa yang kau cari….

Apa yang kau
dapatkan…….

Bergunakah…….

 

Tidak..!!!!!

Tidak ada….

Semua hilang..

Ooooohhhhhh demi
waktu….

Kekerasan

May 8th, 2008 by revantio

Ada satu hal yang bisa dilihat sewaktu melihat
Mesjid tempat solat yang biasa dipakai jemaat Ahmadiyah dibakar, ketika kerusuhan
poso, pengeboman stasiun kreta di Madrid, atau melihat bagaimana orang dengan
sorban, hubah putih, naik motor, banyak jumlahnya dan berseliweran di jalanan
dengan sesuka hatinya, saya menyebutnya hal demikian adalah kekerasan.

Atau anda pernah melihat sepasang remaja berbicara
tanpa menatap wajah?, berbicara dengan mengadu punggung, dan tidak akan mau
bersalaman dengan lawan jenis (bukan muhrim). Saya juga melihat itu sebagai
kekerasan, walaupun dengan alasan menghindari zina. Zina itu datangnya dari
pikiran dan hati. Jangan salahkan Inul, Dewi Persik, Nita Talia serta penyayi dangdut lain yang hobi bergoyang. Hukum
zina datang dari yang melihat, mendengar, berkata, merasakan, dan bukan dari
yang melakukan.

Irshad Mudjani dalam suatu wawancaranya mengatakan
satu hal yang sering tidak diakui oleh para kaum islam moderat, mereka menolak
kekerasan atas nama islam, tapi menyangkal peran agama dalam hal kekerasan. Bahwa
agama dimanipulasi untuk melegalkan kekerasan, nah hal itulah yang sekarang
marak terjadi di Indonesia dengan contoh-contoh diatas tadi.